Me Time

Zaman sekarang, dimana individualisme meningkat,orang-orang banyak yang cuma mikirin diri sendiri, kondisi dimana homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain) mendekati realita #gayabangetbahasanya. Ga jarang banyak yang jadi sutris gara-gara ketatnya persaingan di dunia nyata. Saling jegal, saling hantam, saling sikut, saling tukar kado, saling peluk, itu udah biasa. Suasana tegang, otot dan urat yang menonjol, jadi pemandangan dimana-mana. "Gua lah yang terhebat, yang lain cupu" itulah mungkin pemikiran beberapa orang yang udah top posisinya #mungkinlohya. Pusing kan mikirin yang begit-begitu?

Rasa penat dan lelah karena bergumul dengan kehidupan sehari-hari itu ga baik kalo dibiarin karena bisa berdampak psikologis.  Depresi, kelelahan, insomnia, stres, dan penyakit psikologi lainnya membayang.  Solusinya? Me-Time!! Apakah me-time itu? Jadi me-time itu semacam pengalokasian waktu kita buat kita sendiri, melakukan apapun yang kita suka, buat recharge 'batere' batin kita setelah dikuras sehari-hari.  Banyak cara buat me-time ini, ga harus punya duit banyak, ga mesti alokasiin waktu berjam-jam, aa tergantung kebutuhan masing-masing orang.

Contohnya, jalan-jalan di suatu tempat sendirian, mengasingkan diri di tengah keramaian orang, itu jadi pilihan saya. Baca buku sambil makan es krim, bisa memunculkan resolusi yang mantap sekaligus menghilangkan kepenatan dari aktivitas sehari-hari.  Atau main DotA sebanyak beberapa game, sampek bosen, pun jadi pilihan kalo ga punya waktu buat jalan-jalan sendirian.  Atau kalo me-time si mama, beliau menyempatkan waktu di Jumat pagi, dari jam 6.30-7.30 berenang di kolam renang deket rumah.  Simple yet relaxing.  Yang penting kita punya waktu sendiri, yang bikin kita relaxed.  Atau kalo buat muslim, yang dilakukan 5 kali sehari pun bisa jadi me-time. Berdoa, curhat, bisa jadi relaksasi bagi jiwa. 

Banyak lah yang bisa dijadiin me-time.  All of that is to maintain our sanity in coping with this life. Itu me-time -ku, apa me-time-mu? #maksa

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺