Seni Budaya Nusantara: Milik Siapa?

Ketika negara kalem semua adem ayem sebebas-bebasnya pake produk asing. Ketika negara gonjang-ganjing semua teriak Indonesia.
-Ki Gendeng Pamungks, atas nama Front Pribumi (dengan sedikit perbaikan)-
Masih inget banget sama kata-kata itu, kata-kata yang seringkali menghias di daerah tugu Kujang waktu gua masih SMP, masih naik angkot pulang pergi sekolah. Front Pribumi yang dinakhodai Ki Gendeng Pamungkas, salah satu tokoh masyarakat di Bogor, acap menyindir pemerintah dan masyarakat Indonesia dengan memasang spanduk-spanduk berisi sindiran-sindiran sarkasme, nyelekit tapi bener kalo kata orang jaman sekarang mah.  Kadang ada yang terlalu frontal dan sering banget yang bisa bikin para pengguna jalan tersenyum simpul: ngerasa tersindir karena memang begitu adanya. Tapi sayang banget, sejak gua kelas 2 atau 3 SMP, karena ada pembangunan Botani Square, dinding di situ jadi gabisa dipasangin spanduk lagi dan praktis Front Pribumi udah ga 'berkicau' lagi deh.

Seinget gua, pernyataan di awal posting blog ini dilontarkan pas ada peristiwa para separatis di daerah Maluku atau Papua gitu (lupa), juga ada beberapa kejadian kebudayaan Indonesia yang diklaim negara tetangga (you know who), sehingga saat itu rasanya nasionalisme sedang benar-benar diuji.  Semua orang membela Indonesia dan mengutuk para perongrong persatuan bangsa.  Semua orang berteriak, "Saya Indonesia." dan mengacungkan merah putih.  Dan kejadian itu ga berlangsung lama, dalam waktu sekitar 2 minggu-an suasana udah kembali cair, dan orang-orang kembali melupakan kita punya tari Sisingaan, batik Bogor, tari Ketuk Tilu, tari Bajidor Kahot, gamelan, sasando, dan lainnya.

--00--


Kemarin malam gua dapat kesempatan yang sangat yang langka, dan sejujurnya merupakan salah satu keinginan lama yang terpendam dan bisa terlampiaskan #apacoba.  Gua berkesempatan ngobrol dengan seorang pegiat seni tradisional secara langsung! Selama ini gua cuma bisa baca dari artikel-artikel tentang mirisnya kehidupan seni tradisional dewasa ini, tapi belum bisa ngobrol langsung dengan pelaku seninya sendiri. Alhamdulillah semalem dapet kesempatan itu, yaitu ngobrol dengan seorang peseni tradisional yang udah menggeluti dunia seni tradisional selama 28 tahun, dimulai di umur 16 tahun, saat itu tahun 1985 sampai sekarang.  Kalo liat beliau nari, beuh, seakan-akan tubuhnya emang udah dirancang untuk itu, dan berbagai gerak dan jenis tarian tradisional (khususnya Sunda) dengan mudahnya beliau praktekkan. Nama beliau adalah bapak Datam, orang Bandung asli.

Beliau bercerita tentang kisahnya sudah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia berkat kepiawaiannya menari. Tahun 1992-1993 saja beliau sudah tinggal di Belanda untuk mengajar tarian tradisional Sunda.  Beliau berbagi kisah uniknya di sana, yaitu ketika beliau hendak pulang, karena begitu senangnya orang Belanda dengan barang-barang Indonesia, pak Datam menjual set gamelan yang ia bawa dari Indonesia.  Harga pembeliannya dari Indonesia waktu itu 'hanya' Rp 60 juta tapi laku terjual hingga Rp 300 juta! Begitu aprreciate-nya orang Belanda kepada seni budaya Indonesia.

Setelah itu, beliau menceritakan pengalaman pahitnya mengalami plagiarisme ketika pentas di Malaysia.  Selain masalah plagiarisme, beliau juga pernah ditipu pihak Malaysia. Ketika itu ia hanya dikontrak mengajar di sebuah universitas di Malaysia selama 6 bulan dan mengajarkan 6 tarian, namun nyatanya ketika baru sampai 3 bulan beliau sudah mengajar sekitar 12 tarian.  Karena beliau merasa dibohongi, akhirnya beliau mengambil langkah berani, yaitu kabur dari Malaysia melalui KBRI meskipun gaji yang dibayarkan baru setengahnya.  Parahnya lagi, beliau bercerita bahwa ada temannya dari Solo yang sampai sekarang (sudah 7 tahun) masih belum pulang dari Malaysia akibat paspornya ditahan pihak Malaysia dan temannya itu tidak berani melapor ke KBRI.

Kemudian gua bertanya sebuah pertanyaan mahadahsyat yang selama ini terpendam di lubuk hati #okeskip, "Pak, sebenernya kalo kita ngomongin tentang kebudayaan Indonesia, siapa sih yang salah?" *jengjeeeengg.  Menurut pak Datam, kesalahannya 60% ada di masyarakat kita.  Beliau kemudian melontarkan pertanyaan retoris: Ketika ada konser musik oNah dan pagelaran seni Sunda tradisional di saat bersamaan, mana yang akan menyedot massa lebih banyak? Tentu konser JavaJazz yang paling rame #lohloh.  Begitulah gambaran kasarnya betapa buadaya kita kehilangan tempat di rumahnya sendiri.  Bahkan pak Datam mengakui kalau beliau lebih senang mentas di luar negeri daripada di dalam negeri.  Karena ketika di luar negeri beliau mentas, ada sesuatu yang tidak beliau dapatkan jika beliau mentas di dalam negeri: penghargaan penonton. 

Kalau dibandingin antara luar dan dalam negeri, perbandingan antara orang yang lewat aja dengan orang yang lewat dan tertarik dengan pertunjukan, itu lebih banyak orang yang ngeloyor pergi jika di Indonesia. Kalo di luar negeri, ketika penari 'cuma' melakukan gerakan sederhana seperti 'ukel', 'godek', atau 'ngumis' dan sebagainya, para orang asing akan sangat excited dan bener-bener melongo liat penari Indonesia.  Beda banget kalo nari di Indonesia yang yaah paling cuma sebagai seremonial di awal acara sebagai penghapus rasa bersalah dan menunjukkan kalo panitia peduli budaya Indonesia, padahal pengennya acara nari itu dipercepat aja #suuzonakut #janganditiru.
Oiya baru inget, beliau juga cerita kalo di Malaysia itu ada semacam daerah yang emang dikhususkan untuk para pekerja seni.  Mulai dari seni tari, seni musik, seni teater, dan bentuk seni lainnya berkumpul dan kerja, digaji untuk spesialisasi di bidangnya masing-masing. Di daerah itu bisa didapat berbagai alat kesenian tradisional dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, sulawesi, Bali, dan lainnya.  Pantas saja ketika Reog kita kemarin diklaim, Malaysia sudah mempelajari dan melakukan modifikasi terhadapnya sehingg amereka berani mengklaim, padahal akarnya tetap dari kebudayaan bangsa kita.

--00--

Yah begitulah keadaan seni budaya Indonesia. Ketika ramai budaya kita diambil orang, kita teriak kepada pemerintah untuk mematenkan segala macam bentuk seni budaya Indonesia, tapi di saat bersamaan kita sendiri enggan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Sebuah oksimoron yang nyata dan harus ada yang segera mengubah ini, harus ada yang peduli pada kebudayaan Indonesia.  Mimpi paling buruknya adalah, ketika tidak ada lagi penerus kebudayaan kita, maka bisa saja kita mempelajari kebudayaan kita di luar negeri, katakanlah Belanda yang lebih menghargai budaya kita dibanding kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

Di Antara Hitam-Putih, Abu-abu Hadir