Telur dan Ayam Profesor Mari Musang



Musang juga disebut luak. Panjang ekornya lebih kurang satu meter, warnanya coklat tua dengangaris dan belang hitam.  Musang terdapatdi daerah-daerah mulai dari India sampai Indonesia.  Makannya berupa serangga, telur, ayam, danbuah-buahan.


Professor Mari Musang adalah gurubesar ilmu hewan pertama dari kalangan musang. Ia mengajar di perguruan tinggi Universitas Rimba Raya (URR).  Selain berprofesi sebagai pengajar, ia jugaibu bagi tiga ekor musang kecil yang sangat cerdas.  Suaminya telah lama meninggal dunia karenaterkena perangkap Pak Jono pemilik peternakan ayam.  Prof. Mari yang semenjak remaja sudahterkenal karena kecerdasannya, bekerja keras membanting tulang dan menuntutilmu agar dapat menghidupi dan membesarkan anak-anaknya.
Walhasil, segala kerja keras prof.Mari kini mulai berbuah.  Ia berhasilmenjadi seorang guru besar yang berpengaruh dan terkenal di seantero rimbaraya.  Anak-anaknya pun tumbuh menjadimusang-musang yang berakhlak mulia dan mencerminkan kecerdasan lahirbatin.  Meskipun Prof. Mari sangat sibuk,ia selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan ketiga anaknya, khususnyapada saat-saat mereka makan bersama.
Setiap kali mereka mengelilingimeja makan, Prof. Mari akan selalu melontarkan pertanyaan kritis untuk dijawabbersama-sama.  Tiko, Tika, dan Tiki,demikian nama ketiga anak Prof. Mari secara berurutan, sangat senang berdebatdan beradu argumentasi.  Prof. Marisering merasa takjub mendengar jawaban-jawaban anaknya yang di luar dugaan.
Malam ini, Prof. Mari mengajukansebuah pertanyaa filosofis yang sering diperdebatkan di perguruan dan dikalangan para ahli filsafat.
“Manakah yang lebih dulu, teluratau ayam?” Tanya Prof. Mari.
Tiko, Tika, dan Tiki salingmenyunggingkan senyum, bahkan akhirnya Tiko tak mampu menahan diri dan tertawaterbahak-bahak.
“Ibu, Ibu… pertanyaan semudah itukok diberikan pada kami, sih?”
Prof. Mari terperangah karena tidakmenduga akan mendapatkan respons seperti itu.
“Apakah kalian tahujawabannya?”  Ia membayangkan begitubanyaknya teori yang berusaha menjawab pertanyaan itu, tetapi tak satu pun yangmembuahkan hasil.
“Tentu saja kami tahu, Bu.  Jawabannya adalah jelas lebih dulu telur.”
“Mengapa bisa demikian?” TanyaProf. Mari penasaran.
“Ya tentu saja telur, Ibu.  Karena telur kita makan ketika sarapan danayam kita makan ketika makan siang dan malam.”
Prof. Mari tersenyum, “Memangsemakin repot kita memikirkan efek sebab-akibat, akan semakin sering pula kitamengabaikan fakta yang nyata-nyata tersaji di hadapan kita.  Terkadang jecerdasan itu justru muncul darikesederhanaan.  Teori relativitas,misalnya, justru dirumuskan dalam persamaan yang sangat sederhana.  Hanya melibatkan dua variable, yaitu massadan kecepatan cahaya.  Namun lihatlahm,dampaknya bisa mengubah wajah peradaban dan dunia.”
Anak-anak memang bisa berpikirjernih dan mampu melongok setiap masalah dengan apa adanya.  Mereka tidak dibebani pretense untukberprestasi dan memenangkan kompetisi. Mereka tidak memiliki masalah untuk mengeksistensikan diri sebagai suatubentuk aktualisasi. Dengan kata lain, mereka jujur terhadap diri sendiri danjuga terhadap orang lain.  Padahal, untukberprestasi dan menang dalam berkompetisi, kerapkali kita berbuat licik danmencurangi diri sendiri.
Pendek kata, semakin banyak kita menimbun dosa,semakin sulit pula kita untuk berpikir apa adanya.  Meskipun konsep “apa adanya” itulah yangsebenarnya merupakan kecerdasan paripurna.


Hikmah:  KESEDERHANAAN dan kejujuran adalah kunci darikejernihan pikiran.  Hanya saja, syaratuntuk menjadi jujur dan sederhanalah yang untuk sebagian dari kita, terasaberat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺