What Didn't Kill You, Will Makes You Stronger

Jadi kemarin lusa, 24 Mei 2013, diajak sama senpai dari Nodai buat dateng ke acara PPI Jepang di Todai. Acaranya nonton film "The Act of Killing". Inih foto posternya.




File:The Act of Killing (2012 film).jpg
 Awalnya sama sekali gatau ini film apa, cuma begitu diwanti-wanti bahwa ini adalah film tentang pemberantasan PKI, dan mesti ditonton dengan pikiran terbuka, well my curious sense was tingled. Jadi yaudah tanggal 25 kemarin cabut ke Todai.

Berangkat ke Todai sama kak Kiki (senpai yang baru Maret kemarin wisuda S1 dan sekarang lagi jadi research student di Nodai), dan selama di perjalanan berangkat buaanyak banget diceritain kisah-kisah perjuangan 'membangun' kembali PPI Jepang setelah sempat mati suri. Mulai dari nyari sponsorship perusahaan-perusahaan Jepang, ngedatengin orang-orang Indonesia yang ada di seluruh penjuru Jepang, sampe dimarahin pak Dubes gara-gara ini dan itu. Seru! Jadi inget masa-masa riweuh dulu :P





Sesampai di Todai, ga lama setelah beberes TKP, film diputer. Ohiya, di acara itu ada seorang sensei dari Universitas Waseda, namanya William Bratt Horton (a.k.a Dewo Broto Hartono), seorang berkebangsaan Amrik TAPI lancar banget bahasa Indonesianya, pun Jepangnya. Bahkan kadang suka ada aksen Jawa terselip waktu beliau ngomong. Beliau memang pernah tinggal di Indonesia dan mendalami sejarah Indonesia, makanya beliau diundang untuk mereview dan mengomentari film ini.

Jadi sebenernya, 'The Act of Killing' ini semacam film dokumenter yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer, seorang berkebangsaan Denmark.  Ceritanya mengupas sudut pandang para pembantai komunis PKI, berpusat pada Anwar Congo sebagai narasumber utama film ini. Dia salah  seorang.... ng.... dedengkot eksekutor para 'terduga' komunis PKI di tahun '65-'66 dulu. Kalo nanya orang Medan dan sebut nama Anwar Congo, pasti dia bilang kalo Anwar ini sangat ditakuti di Medan. 

Nah, si pak Anwar ini dulunya bersama sahabat-sahabat dan teman sepermainannya (?) aktif di salah satu ormas pemuda yang sampai saat ini masih aktif, yang dikenal dengan sebutan "Pemuda Pancasila". Mereka-mereka inilah yang 'berperan' untuk 'mensterilkan' bumi Indonesia dari paham komunisme. Caranya? Kalo bahasa Medannya, "dikasih mati".

Dalam film ini, Anwar Congo secara khusus menjelaskan bagaimana dia dan teman-temannya 'membersihkan' para komunis.  Ada yang dengan cara dicekik menggunakan kawat yang diikat di tiang, ada lehernya diletakkan di bawah kaki meja, lalu mejanya diduduki ramai-ramai, ada yang dilindas mobil, badan atas dan bawah ditarik berlawanan arah sambil dibuang ke sungai, dan lain sebagainya. 

Selain metode-metode eksterminasi, masalah moralitas pun dibahas secara blak-blakan. Karena berdasarkan data, anggota PKI pada masa itu sekitar 3.000 orang, dan yaah hitungan kasarnya, lebih kurang ada 3.000 orang yang harus 'dibersihkan', bukan? Salah satu karib Anwar, Andri (kalo ga salah) berprinsip bahwa orang-orang yang mereka bunuh, memang 'pantas' untuk dibunuh dan akan lebih 'bermanfaat' untuk orang banyak bila dibunuh. Itulah cara dia agar dia tetap waras sampai hari ini.

Namun tidak semudah itu bagi Anwar Congo. Ada satu penyesalan yang selalu menghantui dia. Diceritakan ketika dia menangkap tersangka PKI dan disuruh jalan ke suatu tempat untuk diinterogasi, sang tersangka enggan menurut. Pada akhirnya, karena Anwar kesal, maka dia langsung menendang si tersangka sampai terjerembab, dan langsung menggorok lehernya di tempat. Anwar masih dihantui perasaan bersalah mengapa dia tidak menutup mata si tersangka, karena sampai dia mati, ketika tubuhnya mengejang meregang nyawa, meskipun kepalanya sudah putus, matanya masih menatap Anwar.  Mengingat hal itu, seringkali membuat Anwar bermimpi buruk. Bahkan dalam filmnya, dia sempat muntah-muntah di tempat mereka biasa membunuhi orang-orang (mereka sampai menamai kantor mereka "Kantor Darah").  

Meskipun begitu, Anwar sendiri merasa bangga karena dia menjadi salah satu 'pion' negara untuk membersihkand an menjaga Indonesia dari serangan Komunis PKI. Menurut Mas Broto sendiri, kesediaan Anwar untuk turut membantu terselesaikannya film ini sendiri merupakan sebuah 'hukuman' yang berat dan setimpal bagi Anwar, karena dia 'terpaksa' harus membuka kembali kenangan dan dosa-dosa yang telah dia lakukan di masa mudanya.

Singkatnya kira-kira begitulah. Film ini menjadi menarik karena film tentang PKI pada umumnya memiliki sudut pandang para korban yang anggota keluarganya hilang, sedangkan film ini bersudut pandang orang-orang yang justru 'menghilagkan' orang.  Sisi moralitas yang sedikit-demi sedikit dimunculkan sebagai topik permasalahan pun dapat menjadi bahan perbincangan yang asik: "Apakah Anwar Congo dan teman-temannya yang masih hidup mesti dihukum?" Dan pada akhirnya, Anwar bertemu pada titik persimpangan, apakah dia pendosa, ataukah pahlawan?


--oOo--

Setelah nonton, ada acara dadakan yaitu nonton Hotaru blablabla apaa gitu, letaknya di Asakusa, deket sama Tokyo Skytree. Hotaru itu artinya kunang-kunang pemirsah. Jadi ceritanya ada lampu kecil warna biru buanyaak, bakal dibuang di sungai. Ini gambarnya.










Maap kalo gambarnya jelek yah, maklum banyak orang dan udah malem .__. Begitulah orang Jepang, padahal cuma liat 'begitu', mesti bayar kira-kira 1.200 yen loh. Untungnya kami kebagian yang gratis karena tiektnya udah abis. Tapi memang di bagian yang gratis ga sebagus yang bayar T^T

Nah setelah dari Asakusa, kami menuju ke Ueno buat makan malam. Setelah puter sana puter sini, akhirnya ketemulah food court.  Di food court, banyak terjadi percakapan yang menarik. Awalnya gua nanya tentang bentuk konstitusi Jepang, kenapa PM-nya sering ganti, dan lain sebagainya. Akhirnya nyambung ke masalah politik Indonesia, siapa yang kira-kira berpeluang jadi RI 1 tahun depan, dan sebagainya. Atmosfer diskusinya yoi banget, kangen diskusi-diskusi bebas tapi serius begitu :')

Sampe jam 10 kurang, akhirnya kami pulang ke tempat tinggal masing-masing. Ada yang ke Chiba, ke Todai, dan lainnya. Dan di perjalanan pulang pun, masih didongengin dan dikasih wejangan lagi sama kak Kiki tentang kehidupan di Jepang dan pengalaman-pengalaman beliau selama 4 tahun di Jepang.  

Ada satu pertanyaan yang dijawab dengan apik oleh beliau, yaitu "Apa kakak nyesel karena secara akademis tertinggal 2 tahun dari yang seharusnya?" (FYI, kak Kiki ini dulunya AFS ke Amrik jadi ketinggalan kira-kira 1,5 tahun) Lalu beliau jawab berdasarkan quote-nya pak Anies Baswedan, "Terkadang layaknya busur, kita harus ditarik ke belakang untuk kemudian melesat jauh ke depan." Nice!

Overall, banyak banget pelajaran dan pengalaman yang didapat hari itu. Baru kira-kira 2 bulan di sini, dan masih banyak yang harus diekplorasi lagi, lebih dalam lagi. Siapapun kamu dan dimanapun kamu berada, harus berani mencari dan mencari pengalaman yang lebih banyak. Jangan takut melangkah, jangan takut salah, tapi jsutru belajarlah dari kesalahan. Semangat!!

Komentar

  1. "Terkadang layaknya busur, kita harus ditarik ke belakang untuk kemudian melesat jauh ke depan"
    ah, langsung "kena" rasanya, semoga kita termasuk yang bisa melesat jauh, jauuuh ,ke depan ya den! Semangat :)

    BalasHapus
  2. huehuehue iya kak, makanya kalo ada temen yang bilang begitu, saya udah tau jawabannya ehehe. Semangat kak :D Viva susu :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺