Journey Beyond the Lands #1: To Infinity, and Beyond!!

Tanggal 27 Maret 2013, entah itu jadi hari yang paling ditunggu atau sebaliknya. Tapi yang pasti, di situlah titik balik hidup gua: memulai dari titik nol.  'Membuang diri' ke negeri orang, saat sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi, lingkungan, dan suasana di negeri sendiri.  Dengan bekal bahasa Inggris pas-pasan dan bahasa Jepang yang masih sangat basic,cabutlah ke negeri Sakura, tempat yang memiliki kenangan tersendiri.  

Jauh sebelum tanggal itu, dapat kabar bahwa positif lolos itu sekitar awal Januari, inget banget waktu itu lagi ngajar Ekonomi Umum di salah satu bimbel di daerah kampus, terus dapet sms dari papa (aw aw) buat ke Ditmawa untuk ngambil sesuatu. Teteret tereet, ternyata pengumuman bahwa telah resmi diterima sebagai mahasiswa baru di Jurusan International Bio-Business, Tokyo University of Agriculture. #sujudsyukur Langsung ada perasaan 'nyeesss' yang merasuk dalam sanubari #lebay. Jadi........ jadi nih, ninggalin semua yang udah dibangun, yang udah diraih, di sini, di IPB, di Indonesia? Ah, yasudahlah, singkirkan semua prasangka yang memberatkan, bulatkan tekad!!

Akhirnya, dari Januari sampek Maret, diisi dengan berbagai macam persiapan. Persiapan latihan nari karena nanti ada pentas budaya para mahasiswa asing, persiapan bahasa, persiapan mental, dan lain-lain. Harus ngucapin selamat tinggal ke banyak tempat, banyak hal, banyak orang.... Kos-kosan yang udah menemani dari bulan Juli tahun lalu, sampe Maret kemarin, banyak banget kenangan dan hal-hal yang dilakukan di sana. Sekret Forces, tempat paling nyaman se-IPB, tempat di mana ketika lagi stress tingkat akut trus kalo pulang dari situ, pasti berseri-seri karena kebanyakan ketawa. Rumah hantu, kosan temen lorong, pun warung ijo, tempat kosan anak lorong juga. Koridor-koridor tempat biasa rapat, ruang kelas-ruang kelas tempat tidur siang menuntut ilmu, kantin, warung makan, warung padang, jus stroberi, ketoprak mas Bejo, dan lain-lain. #fiuuuhhh

Dan tanpa terasa.... datanglah hari-hari menuju keberangkatan. Mama udah mulai cerewet ngingetin buat packing dari H-1 bulan, tapi gua dengan santai jawab "Udah santai aja, ntar H-2 minggu baru mulai beresin." Dan realisasinya, baru H-1 minggu mulai beberes #ngahahaha. Targetnya adalah, berat koper totalnya 20 kg, karena segitulah batasnya (maklum belinya tiket promo, jatah bagasi cuma dikit). Setelah dipaksa-paksa dan dikurang-kurangii, akhirnya dapetlah massa bruto koper 30 kg. Okay seems like we are screwed. Tapi yaudah, capcus aja dengan berat segitu. Setelah seminggu sebelum keberangkatan dipenuhi jadwal perpisahan, akhirnya tiba juga di hari keberangkatan.


Sebenernya ada rasa sedih terselip karena berangkat bener-bener sendiri, padahal dari tahun-tahun sebelumnya selalu berdua yang dikirim. Tapi ya sudahlah, gua percaya lelaki punya selera (?), jadi meskipun ini penerbangan internasional perdana dan sendiri, alhamdulillah semua berjalan lancar.  Oiya, di hari itu, makasih banyak buat beberapa temen-temen AGB yang berkenan repot-repot nganterin ke bandara. Untung atmosfernya ga terlalu sedih, jadi gaperlu menitikkan air mata :P Singkat cerita, setelah ngurus administrasi bandara dan segala macem, sampailah di kursi pesawat, bersebelahan dengan aki-aki Jepang, suasana syahdu sekali agak hiruk pikuk, tapi berangsur mereda, tenggelam di pikiran masing-masing.

Sesampai di Narita Airport, setelah melewati perjalanan udara selama kira-kira 8,5 jam, sempet bingung karena...... gatau harus kemana T.T Oke ga masalah, ikutin aja orang-orang yang tadi bareng di pesawat, dan yeay akhirnya sampe ke luggage claim. Sebelumnya harus ngisi form apaan tau, semacam keperluan imigrasi, dan dikasih zairyuu kaado ('KTP' untuk orang asing, katanya ini sistem baru, biasanya mesti ngurus ke Keimigrasian Jepang)) dan beberapa dokumen. Nah pas di luggage claim, sempet salah tempat karena ternyata itu bukan yang dari Jakarta. Setelah nanya ke petuags dengan bahasa  Jepang pas-pasan, akhirnya ketemu juga koper gua. Beres ambil dan segala macem, keluarlah dari situ, dan udah ada senpai (kakak kelas) yang nunggu di luar. 

Ternyata sakura sedang bermekaran, seakan menyambut datangnya musafir yang memendam berjuta asa dan impian. Akankah sakura-sakura itu, setelah bermekaran dan jatuh, kan menjadi saksi sejarah, bahwa ada asa yang digantungkan, ada harapan yang diselipkan dalam doa? Entah, entah sakura yang keberapa yang dapat menjawab itu.

Ini baru awal, seperti kata seorang senpai, "Masih jauh den, jalanmu masih jauh. Selamat menikmati perjalanan di sini, lakukan apa yang kamu suka, dan jadilah diri sendiri."


To infinity, and beyond!!
 -Buzz Lightyear


 Ini pas seserahan jabatan CEO Agribisnis 48

 Ini pas temu profesi Agribisnis 49

 Ini temen-temen lorong 1 Gedung C1 waktu acara pengajian di rumah


  Ini teman-teman Forces 9 waktu acara pengajian di rumah

 Ini waktu malam sebelum keberangkatan, makan di Sego Kucing Takasi Murah (SKTM) punya abang Miftah di Babakan Tengah (Bateng)

  Ini waktu malam keberangkatan, bareng mama, papa, dan si gendut Bodri alias Andri

Ini temen-temen yang nganter ke bandara, makasyih gays :D

 
Ini sakura pertama yang nyambut langsung di depan jendela kamar, subarashii!

Karena ketika kita berdoa, ada 3 alternatif yang akan Allah berikan. Pertama, doa kita akan langsung dikabulkan. Kedua, doa kita tidak akan langsung dikabulkan, tapi akan dikabulkan di lain waktu. Ketiga, Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kita doakan. Anti kecewa, anti mengeluh. Maju terus!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

道元を食いすぎた俺