Journey Beyond the Lands #3: そろそろ一年間。。 It's been a year!

Gak terasa kira-kira 3 bulan lagi bakal genap setahun di sini (well ga genap juga karena kemarin sempet pulang, but who cares hahaha). Udah baaaanyak banget hal yang didapat di sini. Pengalaman, teman, kisah, humor, kesel, kesulitan, wah banyak dah. Tentunya itu semua berkat karunia Allah Swt. yang ga henti-hentinya saya syukuri dalam setiap kesempatan tarikan nafas dan doa di penghujung solat. Dream(s) come true is the best feeling ever exist in the world in my opinion xD

Lalu, kemarin pas tes tertulis bahasa Jepang, ada bagian untuk nulis 作文 (Sakubun) atau karangan tentang apa yang udah dipelajari selama (hampir) setahun ini di Jepang dan apa yang ingin lebih lanjut dipelajari lagi ke depannya. Dimintanya sih cuma 3 poin tentang apa yang udah dipelajari tapi memang kalo ndak dibatasin pasti bakal lebih dari 3 poin xD So I'll share what I learned (not studied) from living abroad these 1 year :)



  1. Saya belajar menjadi lebih mandiri di sini, dan menurut saya itulah yang paling penting. Kenapa? Karena kemandirian itu menurut saya sih menentukan 'level' seseorang loh. Contohnya, hampir semua instruksi yang ada di sini (pastinya) berbahasa Jepang dan yang paaaling menjadi momok itu adalah huruf kanji (will explain about kanji (hopefully) in the next post). Pastinya supaya bisa ngerti banyak hal, ya harus ngerti bahasa dan terutama kanji, dan itu ndak mudah. Harus naikin level diri (level kanji dan pemahaman bahasa Jepang). Selain itu, harus juga ningkatin kepercayaan diri buat ngobrol dengan bahasa selain bahasa ibu. That really challenging your confidence and courage to the whole new level. Saya harus menjadi lebih mandiri karena saya sadar bahwa semua orang punya urusan dan masalah masing-masing, dan yaa yang bisa nolong diri sendiri, ya diri sendiri #dooong. So, to be more self-dependant is meant to help your own ass.
  2. Masak! Semenjak di sini jadi lebih rajin masak daripada di Indonesia. Yah jelas, kalo makan langsung jadi di sini paaling murah dan yah ndak terlalu lumayan kenyang kira-kira 28ribu rupiah sekali makan. Sedangkan dengan dana kira-kira 60ribu rupiah bisa buat makan 10 kali (bikin spaghetti carbonara). Jauh kan yah? Jadinya harus belajar masak sdan bisa hemat-hemat. Tapi sampek sekarang baru bisa 3 jenis masakan, tumis sayur acak kadut, spaghetti carbonara, sama nasi goreng. Masih harus banyak berlatih~
  3. Lalu yang terakhir, adalah munculnya kesadaran bahwa hidup itu berdinamika. Ada saatnya bahagia, senang, sedih, sakit, sehat, cemacemlah; pastinya udah pada tau yah. Jadiii.... di saat sedih jangan terlampau sedih, di saat senang jangan terlampau senang. Kalo kata pedangdut mah yang biasa-biasa aja, don't be lebay, betul atau bener?
Kemudian untuk hal yang ingin saya pelajari ke depannya, yaitu tentng kehidupan itu sendiri. Masih (terlalu) banyak yang belum saya ketahui tentang kehidupan ini (pastinya), dan saya akan terus berusaha untuk ga berenti belajar, ga berenti melihat, ga berenti membaca, ga berenti memahami tiap fenomena dan makna-makna tersembunyi yang Dia tampakkan di keseharian. Yak, belajar kehidupan :)

Sebenernya, 3 hal aja ndak cukup untuk menggambarkan apa yang udah saya pelajari, tapi karena kemampuan bahasa Jepang masih terbatas, alhasil cuma bisa nulis 3 xD Dan kira-kira inilah tambahannya xD

  1. Never ever judge the people by their cover. Dari dulu emang selalu megang pepatah ini, tapi sejak di sini makin jadi sadar (banget). Contohnya, pas mabit kemarin ketemu bapak-bapak paruh baya yang lagi di Jepang mengabdi jadi guru dan penjaga Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), yang ternyata di kampung halamannya beliau mendirikan sekolah alam barengan temen-temennya yang satu visi. Beliau punya cita-cita luhur bahwa masih bisa kok Indonesia itu diselamatkan. Bener-bener inspiratif bapak satu itu. Contoh lainnya, ternyata imej orang Jepang selama ini (all of them strictly discipline) ternyata ndak gitu juga. Pernah dibuat kecewa berkali-kali ngeliat orang Jepang yang buang sampah sembarangan, nyebrang jalan tidak pada tempatnya, dan lain-lain. Jadi, jangan menilai sesuatu dari bungkusnya ajah :D
  2. I learned that attitude is number one. Yeah as you know, saya ini tipikal yang suka ceplas-ceplos, turunan dari nyokap tampaknya. Nyokap orangnya iseng (banget), sering ngomong asal, dan itu nurun ke saya _ _" Ditambah hidung saya yang besar (menurut ilmu fisiognomi, orang berhidung besar itu sangat-sangat jahil), makin jadilah *sigh* Akhirnya pernah ditegur sama kakak kelas buat (lebih) jaga attitude, and that is what I did :D Thank you for reminding me, senpai :D
  3. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dari manapun Anda berasal, harus menerapkan dan menghormati budaya di mana Anda berada. Contohnya kalo di sini, HP harus selalu di-silent ketika berada di angkutan umum (kereta atau bis), dan sama sekali gaboleh menggunakannya ketika berada di dekat tempat duduk khusus lansia,  karena siapa tau di situ ada orang yang menggunakan alat pacu jantung, dan ketika kita menggunakan HP yang menghasilkan gelombang elektromagnetik, bisa-bisa mesinnya berenti bekerja dan kita menyebabkan kematian orang lain tanpa disengaja. Serem kan? Kemudian ada juga peraturan ga tertulis yang melarang orang makan dan minum di angkutan umum. Kalo di Indonesia mah masa bodo amat kan yah mau makan minum di angkutan umum :D Lalu ada satu kebiasaan yang bikin saya kagum sama orang Jepang. Ketika mereka nonton di bioskop, lampu ga akan nyala sampek semua bagian dari film selesai, dalam arti sampe paaling akhir banget, bagian credit-credit dari para pembuat film, aktor dan sebagainya. Hampir semua orang bakal nunggu (meski ga semuanya), beda banget sama di Indonesia yang ketika cerita udah sampe akhirnya, lampu udah nyala dan hampir gaada orang yang nontonin sampe akhir.
Itulah menurut saya apa-apa yang udah saya pelajari dan serap setahun ini. Buat saya, ini pengalaman hidup pertama kali jauh (banget) dari orang tua. Dari kecil sampek tahun kedua kuliah selalu deket ortu, lebih-lebih dari SD sampe kuliah ga keluar dari yang namanya Bogor. Jelas pengalaman abroad sekarang semacam a single gigantic leap for me *okelebay* Well, rangkuman tentang 'seperti apa sih hidup di luar negeri' bisa diliat di posting saya sebelumnya di sini.

Kalo dikonklusikan, keluar dari zona nyaman pastinya memberikan kesempatan buat belajar lebih, ngeliat lebih, karena "Within comfort zone, there will be no growth and within growth zone, there will be no comfort". BUT, it is your own choice whether you want to make your growing process to be comfort, or you want to dramatize every tragedy or sadness in your life. Life is about making choices after all :D

Happy growing, happy maturing :D


Bonus:

Roti bakar meses plus es krim, yumm :9 

Nasi goreng abon plus kacang pilus plus telor asin 

Nasri goreng omelet telur (ceritanya) plus kacang pilus 

First attempt on spaghetti carbonara sauce, kinda failed ^^; 

(Ceritanya) nasi omelet plus kentang goreng 

Another Spaghetti carbonara, looks (a very little bit) better 

(Ceritanya) Nasi omelet otak kentang goreng versi ekspresi datar

Hahahahaha ini ceritanya spaghetti saus tomat, tapi sepertinya gagal maning ^^; 

 Nah ini eksperimen iseng, tumis sayur acak kadut, ada toge, kubis, wortel seuprit, ditambah shoyu (kecap asin Jepang), gula, garam, black pepper, telor, ditumis deh :D Rasanya? Lumayan lah :9

 Sama seperti yang sebelumnya, tapi ini eksperimen lagi ditambah mayones. Rasanya? Ada bonus rasa asem mayonesnya *yaiyalah* *bletak*

 Nah ini spaghetti carbonara yang bentuknya udah mulai bener, tapi yang ini ditambahin jamur karena saya suka jamur *terus*

 Nah ini juga lagi iseng, ngombinasiin spaghetti carbonara sama sayur bulet-bulet :9

Sepertinya ini spaghetti carbonara paling sukses sejauh ini. Tekstur yang creamy jadi patokannya. Tingkat keasinan juga udah pas. Yeay :9

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺