Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

(Disclaimer: Kisah yang akan Anda baca adalah murni pengalaman saya pribadi dan diceritakan dari sudut pandang saya yang terjadi di sekitar tahun 2009-2010. Kesalahan saya mengingat kejadian tahunan silam sangat mungkin terjadi, dan bahwa organisasi ybs sudah berubah, atau yang saya tulis di sini salah pun sangat memungkinkan. Kebijakan pembaca sangat diharapkan. Selamat membaca ^^ )

Belakangan ini kita sering membaca di media sosial, atau nonton berita dan melihat sebuah fenomena, Gafatar. Awal mula Gafatar jadi tenar adalah ketika dr. Rica kabur bersama anaknya yang masih balita dengan meninggalkan pesan bahwa dia tidak akan pergi lama dan akan kembali, karena dia mengemban suatu misi; ingin membangun masyarakat Islam yang lebih baik. Tapi dia menegaskan bahwa dia bukan pengikut ISIS, karena ternyata di kemudian hari terungkap bahwa dia adalah seorang pengikut Gafatar.

Kemudian satu demi satu kasus orang-orang yang hilang karena berafilisiasi dengan Gafatar semakin terbuka dan ketahuanlah, Gafatar ternyata sudah cukup lama berada di Indonesia dan banyak orang-orang yang telah hilang dan tidak (belum) kembali kepada keluarganya setelah sekian lama.  Para "korban" Gafatar ini kebanyakan orang-orang yang sudah dewasa, katakanlah sudah mapan, sudah berkeluarga. Meskipun ada juga para remaja yang masih duduk di bangku kuliah.

Tapi tulisan ini ini bukan ingin mengupas tentang Gafatar, melainkan tertuju pada kelompok lain yang sempat menyita perhatian umat muslim Indonesia, khususnya di daerah Jabodetabek beberapa bulan silam, yaitu Yayasan Al-Kahfi. Bagi yang sudah lupa tentang yayasan al-Kahfi, bisa menyegarkan lagi ingatannya lewat artikel ini atau video YouTube ini. Saya sempat kepo dan ternyata mereka juga punya akun YouTube serta website official.


Tentang Al-Kahfi

Singkat cerita, saya pengen bagi-bagi testimoni tentang al-Kahfi (selanjutnya disebut AK) ini, karena saya pernah bergabung dan mengaji kajian versi mereka selama kurang lebih 2 bulan *jengjeeng*. Dulu saya 'bergabung' dengan AK kalau ga salah, di semester kedua kelas X SMA (kelas 10, a.k.a. kelas 2 SMA). Ceritanya dulu ada kakak kelas yang sudah lebih dahulu berkecimpung di AK, diawali dengan prolog yang saya lupa detailnya, tapi yang pasti mengajak untuk mengaji dengan AK.

Kemudian, diajaklah saya dan beberapa teman di DKM (dulu saya DKM *iyah ga percaya kan) untuk hadir di seminar 1 hari, yang namanya juga duh maaf lupa. Ada beberapa peserta yang hadir, termasuk saya dan beberapa teman dan beberapa siswa dari sekolah lain (kurang lebih, 10-15 orang). Di situ ada seorang pembicara yang 'berperan' sebagai atheis, dia menyampaikan berbagai macam teori yang menafikkan keberadaan Tuhan, Allah YME. Segala teori dan bantahan juga sudah para peserta sampaikan, dari yang dalil agama, dalil Qur'an, sampai teori pun disampaikan, tapi si 'atheis' tetap ga goyah (yaiyalah, lawannya anak SMA masih bau kencur gatau apa-apa). Akhirnya di sesi terakhir, si 'atheis' membuka kedoknya dan menyampaikan bantahan dari segala statement awal dia yang menafikkan keberadaan Tuhan. *mindblown*, yap, itu yang dirasakan anak-anak SMA (saya dan kawan-kawan) saat itu. Sebuah penjelasan logis yang menawan, siapa sih yang ga akan terpana?

Akhirnya, di ujung perjumpaan hari itu, diajaklah kami untuk mengaji bersama mereka, yayasan AK, untuk mendapat pemahaman Islam yang lebih 'mutakhir', pendekatan ilmiah, Islam Ilmiah. Dari sekian banyak yang hadir, dari sekolah saya, sepertinya cuma saya yang kepincut dan melanjutkan belajar ke AK. Dari situlah, kebersamaan saya bersama AK bersemi *halah

Namun syukur beribu syukur, meskipun saya kepincut dengan cara mereka (iyah, dulu suka banget dengan yang begitu-begitu, mungkin bosan dengan cara pengajaran agama yang monoton dan kurang seru), saya tetap menaruh curiga kepada AK, apalagi sempat ada kakak kelas lain yang kaget, ada kakak kelas sesama DKM yang mengajak adik-adiknya menghadiri seminar AK. Akhirnya, saya pun bercerita ke ibu saya, bahwa saya sedang ikut mengaji di salah satu yayasan (which is AK) dan mohon bimbingan serta pegangan, kalau-kalau ada sesuatu yang akan terjadi kepada saya nanti. Pastinya, sebagai ibu super, mama menyetujui dan merestui saya untuk mencari ilmu serta pengalaman lebih banyak, sambil mewanti-wanti mengingat banyak remaja yang terjebak aliran-aliran sesat.

Dari situ, dimulailah petualangan saya bersama AK. Saya ketahui, di markas AK yang dulu terletak di jalan Padi, dekat SMA 3 Bogor (SMA saya, jadi seminggu 2-3x mampir ke AK buat ngaji) setiap sore mereka membuka 'kelas mengaji' untuk anak-anak di komplek sekitar. Volunteer-volunteer AK diturunkan untuk mengajar mengaji anak-anak, dan kadang tidak hanya mengaji, secara periodik diadakan pula acara besar yang menampilkan kebolehan anak-anak menyanyi bersama, lomba-lomba, dan sebagainya. Menyenangkan, bukan?

Keanehan-keanehan itu

Hari berlalu, minggu berganti, (halah) saya pun makin mengenal AK; materi-materinya, orang-orang di dalamnya, ideologi-ideologinya, kegiatan-kegiatannya. Satu hal yang selalu ditekan-tekankan oleh AK, yang membuat saya agak 'bothered', adalah tentang yayasan AK yang sudah terdaftar di badan legal pemerintah kota (lupa namanya, Babinlinmas atau apa gitu, di kelurahan pun sudah terdaftar) sehingga mereka mengklaim bahwa yayasan AK itu bukan aliran Islam sesat. Waktu itu meskipun saya hanya mengangguk-angguk saja, tapi dalam hati saya bertanya, "emangnya lembaga-lembaga itu kah yang bisa memutuskan bahwa suatu organisasi itu sesat atau tidak?" Hmm...

Selanjutnya tentang proses 'ngaji'. Mengaji di AK itu, sudah dibuatkan semacam kurikulum tahapan-tahapan materi apa saja yang harus diterima seorang 'santri' (ini istilah saya sendiri). Lalu setiap mengaji, sudah akan disediakan materinya di lembaran kertas, berisi kumpulan ayat-ayat al-Qur'an versi terjemahan bahasa Indonesia, yang pastinya akan berhubungan dengan materi saat itu. Misal materinya tentang surga dan isinya, ya isinya ayat-ayat yang menggambarkan sungai-sungai yang mengalir di surga, tentang taman-taman surga, dan sebagainya. Yang membuat saya heran, kenapa dalam mengkaji/mengaji ini hanya digunakan terjemahan tok saja, tanpa ada buku tafsir yang mendampingi, atau kitab-kitab lainnya? Padahal, mengkaji/menafsirkan al-Qur'an tanpa kemampuan bahasa Arab atau panduan buku tafsir, lebih-lebih dengan logika saja, atau orang yang ahli dalam ilmu tafsir, adalah haram.

Hal lain yang cukup membuat saya tercengang adalah, tentang kegiatan AK yang saya sebut di awal, anak-anak sekitar yang diajar di markas AK. Saya berpikir awalnya, mereka memang mulai sekali menyediakan tempat dan waktu untuk anak-anak tersebut menghabiskan waktu dengan kegiatan bermanfaat (mengaji). Namun di satu kesempatan, mentor saya (si 'atheis' yang saya ceritakan di awal) menanyakan kepada saya saat mengaji, "Den, kamu tau ga kenapa kita menerima anak-anak untuk ngaji di sini? Itu semua supaya AK dapat hati orang sekitar, bahwa AK peduli anak-anak dan sebagainya. Padahal anak-anak itu sebenarnya kan tidak akan menghasilkan uang, malah akan menghabiskan sumber daya kita (red: duit). Tapi gapapalah, demi mendapat hati masyarakat sekitar, yang nantinya mungkin akan ngasih duit ke kita, kita sediakan fasilitas mengaji untuk anak-anak itu, Den." What.. the.. actual....f..... Kurang lebihnya itu yang disampaikan mentor saya, mungkin ada sedikit perbedaan kalimat, tapi kurang lebihnya yaa... itu..

Dan pada akhirnya, ada satu scene kejadian yang tidak akan saya lupakan dan seakan ada suara dalam diri saya 'that is it, I've seen enough' yaitu ketika suatu hari saya menginap di markas AK. Untuk diketahui, anggota AK ini ada yang laki-laki dan perempuan juga, dan ternyata, di markas AK antara perempuan dan laki-laki tinggal bersama 1 atap, and they got no problem at all with that. Buat saya yang pernah mengikuti kajian tarbiyah (IYKWIM) selama kurang lebih 2-3 tahun, itu sangat sangat aneh. Nah, ketika saya nginap di AK itu, saya melihat sendiri ada anggota laki-laki dan perempuan, sekitar jam 11 malam ke atas, duduk berhadap-hadapan, saling tersenyum memandang satu sama lain. Saya akui saya bukan orang yang sesuci ulama atau ustadz, tapi untuk seseorang yang mengaku aktivis umm.. Islam, itu udah gabisa saya tolerir, sih.

Melepas diri

Pada suatu titik, saya menjadi amat sering bersama AK, dan sering pulang terlambat. Hal itu disadari oleh orang tua saya, dan pernah Papa dan Mama mengajak ngobrol bertiga di meja makan. Kayaknya, itu pertama kalinya papa mama nyuruh saya untuk duduk dan ngomongin sesuatu di meja makan, secara serius. Akhirnya papa mama menyampaikan kekhawatiran karena saya terlalu sering bersama AK, dan sikap saya sedikit berubah, cenderung menjadi seorang pemberontak. Namanya anak SMA, egonya masih tinggi, merasa dirinya sudah tau dunia, sudah hebat, saya pun mentah-mentah menolak pernyataan mama papa. Saya bilang, saya ingin berkontribusi untuk Islam bersama AK, karena merekalah yang bisa merangkul saya ketika yang lain tidak, dan alasan-alasan lainnya. Saat itu, papa menyatakan sesuatu yang akan saya ingat seumur hidup saya. Bahwa ada beberapa hal dalam menjalankan ilmu agama, itu tidak perlu dipikirkan apa dan mengapanya, seperti yang termaktub dalam QS al-Baqarah ayat 285, Sami'na wa Atho'na, kami dengar dan kami patuhi. Sayangnya, saat itu saya masih keras kepala dan masih menilai, AK dan saya benar, yang lain cupu, ga ada benar-benarnya.

Sampai suatu hari, AK saat itu membutuhkan sebuah monitor untuk satu keperluan, dan saya teringat di rumah ada 1 monitor yang tidak terpakai, karena PC sedang rusak. Kebetulan, kejadian ini terjadi setelah saya pulang menginap di AK. Saya pun berpikir untuk meminjamkan monitor itu untuk AK. Ketika saya meminta izin ke mama, dan saya utarakan bahwa AK sedang membutuhkan monitor, jawaban Mama lah yang membuat saya tersadar bahwa saya selama ini salah, "Buat apa kamu rela-relain minjemin monitor ke AK? Pertama-tama dari yang kecil-kecil kayak monitorlah apa lah, nanti lama-lama duit kamu, semua kepunyaan kamu juga akan kamu kasih, dan itu yang terjadi dengan aliran-aliran sesat". Tek. Saya pun tersadar dari lamunan panjang, dan sejak hari itu, memutuskan untuk tidak pergi ke AK lagi, selamanya.

Mungkin karena semua keanehan-keanehan yang sudah saya lihat, berakumulasi dan memuncak di hari itu, sehingga tidak ada keraguan lagi dalam diri untuk melepas diri dari AK. Perubahan saya yang kontras ini (saya tidak menjawab panggilan untuk mengaji ke AK, tidak datang ke AK, dan sebagainya) disadari oleh mentor di AK, dan mereka sekuat tenaga mengajak saya kembali ke AK. Menelepon, SMS bilang kangen Deny yang bersemangat, dan lain-lain. Tapi, saya lebih memilih untuk menepati janji dengan Mama; "Ma, kalau Mas Deny terlihat dan jadi aneh setelah ikut ngaji di AK, tolong ingetin Mas Deny yah".

Epilog

Begitulah garis besar kebersamaan saya bersama AK. sebenarnya mungkin masih ada banyak hal lagi, seperti saya diajarkan untuk berbohong, tapi tidak berbohong (bahasa kerennya, berdiplomasi). Lalu diajarkan paham, tujuan manusia hidup itu untuk bahagia, padahal jelas-jelas manusia dan jin diciptakan Allah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat 56) . Lalu pernah juga saya melihat seorang anggota AK, yang waktu itu akan berangkat mencari sumbangan untuk biaya operasional AK, solat ashar begitu kilatnya; saat sujud jidatnya bahkan tidak menyentuh lantai, boro-boro tuma'ninah. Tentang saya yang sudah 'dibaiat' ala al-Kahfi, dan sebagainya. Btw saya masih punya video di kegiatan MT atau Majlis Taklim AK, kegiatan seperti Mabit untuk anggota AK.

Omong-omong, AK ini punya sesuatu yang mereka sebut 'universitas' di Surabaya, dan orang-orang yang terjaring akan 'disekolahkan' di sana untuk dijadikan, let's say, misionaris AK di masa depan. Kakak kelas yang dulu mengajak saya ke AK, selepas SMA sepengetahuan saya, melanjutkan sekolah di Univ AK, entah sekarang ada di mana. Kabarnya sih ybs dipersiapkan untuk kemudian terjun di 'medan dakwah' Bogor dan sekitarnya, entah.

Dan juga yang saya lupa sebut, AK ini hidup mostly dari biaya sumbangan masyarakat, setahu saya. Tidak tahu juga ya apakah ada dana dari sumber yang lain, saya belum terlalu dalam amsuk ke AK juga sih hehe. Yang pasti setiap Ramadhan, mereka akan berlomba-lomba, anggota AK di penjuru Indonesia, mengunjungi rumah ke rumah mencari rupiah. Mereka memanfaatkan momentum 'Ramadhan bulan sedekah, bulan beramal' untuk kemudian sesama anggota akan saling 'patinggi-tinggi' hasil sumbangan yang didapat. Sampai Ramadhan tahun kemarin, rumah saya masih didatangi oleh anggota AK yang meminta sumbangan, namun orang tua saya sudah menutup pintu untuk mereka, dan selalu menolak mentah-mentah ketika mereka datang minta sumbangan. Mereka mendapat data yang ada di rumah ini pak ini, pekerjaannya ini dan itu, dapatnya dari mana? Dari Babinlinmas atau instansi pemerintahan gitu, kan mereka udah punya legal di pemerintahan, jadi bisa dapat data-data demikian. Saya juga pernah ngolah data orang-orang yang kira-kira potensial untuk dimintai sumbangan, suer beneran.

Intinya, saya sendiri tidak berani mengenakan istilah yang keras seperti 'al-Kahfi sesat', tapi mungkin saya lebih suka menyematkan istilah, 'menyimpang'. Mungkin niat AK ini baik, cuma caranya kurang tepat, thus, menyimpang. Saat saya melihat wawancara AK di TV pun, seketika saya berpikir, こいつらまだ生きてるか, hoo, ternyata mereka masih ada.

Sebagai orang yang pernah mengaji bersama AK, saya akui ilmu agama saya sangat kurang saat itu, dan saya sadari proteksi dari alumni sangatlah penting. Aliran-aliran demikian, akan menyasar anak-anak muda terutama SMA yang masih labil dan mudah terpikat dengan hal berbau 'logika' (dalam kasus saya sih ya). Makanya, saya salut juga Gafatar bisa mengambil 'target' orang-orang yang mapan seperti dr. Rica (sotau). Untuk para orang tua, tolong dijaga anaknya jangan sampai kurang kasih sayang dan mencari tempat lain yang bisa memberinya lebih banyak perhatian. Saya beruntung punya mama dan papa yang meskipun mereka sibuk, mata mereka tidak pernah lepas dari anak-anaknya. Untuk teman-teman yang aktif di DS, selamat bertugas, ke depannya akan semakin berat. Maafkan saya yang tidak berkecimpung langsung di sana. Untuk adik-adik SMP dan SMA, saya yakin, orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, selalu minta panduan dan bimbingan dari ortu kalian selama masih ada. Sayangi dan bahagiakanlah mereka.

Untuk kakak-kakak dan (mantan) mentor-mentor saya di AK, saya tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan, apakah target jangka panjang yang pernah kalian sampaikan saya, sudah tercapai atau sudah sampai mana sekarang. Semoga kalian bisa tersadarkan dan mengevaluasi diri.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf atas segala kesalahan penulisan, kesalahan ingatan saya, kesalahan informasi, atau ambiguitas yang mungkin akan ditimbulkan kelak. Saya sangat terbuka untuk kritik dan saran yang masuk. Wallahua'lam bisshawab.


Tambahan:
Ciri-ciri aliran sesat/menyimpang versi saya (mungkin ada yang tidak valid)
  • mengajarkan/memperbolehkan anggotanya untuk berbohong (bahwa berbohong itu tidak apa-apa, selama demi kebaikan organisasi/aliran)
  • menanamkkan paham bahwa ikatan alumni adalah musuh (iya, saya sempat membenci dan tidak suka dengan FSA Al-Ghufran SMAN 3 Bogor)
  • berusaha menyedot sumber daya yang dimiliki, dengan excuse demi kemaslahatan organisasi/aliran

Komentar

  1. Hai Deny
    Waktu SMA dulu saya juga pernah gabung di AK. Untungnya gak lama, karena ada beberapa hal yang membuat saya beda pandangan. Termasuk cara pengumpulan dana mereka dan paham2 yang lainnya, bahkan soal riba juga beda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Septi.
      Iyah betul, mungkin karena saya dulu sangat naif dan mudah percaya sama orang, jadi tidak cepat sadar. Untung ada ortu yang mengingatkan saya saat itu.
      Sampai sekarang pun, mereka masih datang ke rumah saya untuk "sosialisasi" AK, yang pastinya selalu ditolak oleh ortu saya hehe. Mereka emang orang2 yang sangat gigih.

      Hapus
  2. Assalamualaikum
    Td sore sy baru kedatangan tamu dr AK ini yg minta sumbangan...krn penasaran dan baru pertama kali dengar tentang AK, maka saya pun googling dan menemukan blog mas deni ini...dan setelah saya baca ternyata spt itu...makasih dah berbagi pengalamannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumussalam warahmatullah
      Alhamdulillah kalau postingan ini bisa membantu :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumussalam warahmatullah Sabiq.
      Terima kasih sudah mampir :)

      Tulisan saya ini, berasal dari pengalaman yang saya dapatkan medio tahun 2010. Waktu itu saya masih SMA, emosi masih berapi-api, logika masih belum matang, yah layaknya anak remaja pada umumnya. Mungkin banyak bagian-bagian yang sudah tidak relevan dengan Al-Kahfi sekarang. Semoga al-Kahfi terus memperbaiki diri supaya menjadi pionir kebangkitan umat Islam saat ini.

      Wassalam.

      Hapus
    2. Walaikumsalam Warahmatullah, Deni.
      Deni, Al Kahfi mengajarkan kami berpikir ilmiah, obyektif dan rasional.
      Dalam menyampaikan kebenaran Islam harus dengan etika yang benar.
      Bagi Deni yang merasa ada yang kurang atau ada yang salah, pihak Yayasan Al Kahfi pun terbuka dalam berdiskusi mengenai Islam sesuai Al Qur'an dan Sunnah Rasul.
      Metode ini sering juga dilakukan disaat Rasulullah SAW. Dengan Jibril AS, demikian juga dengan para sahabat disaat tidak mengerti tentang sesuatu agama (sahabat bertanya kepada Rasulullah). Hal ini terbukti dalam ayat-ayat Al Qur’an, yang tidak sedikit jumlahnya menceritakan masalah-masalah yang berkenan dengan metode tanya jawab.
      Seperti dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat: 189
      يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      yas-aluunaka ‘ani al-ahillati qul hiya mawaaqiitu lilnnaasi waalhajji walaysa albirru bi-an ta/tuualbuyuuta min zhuhuurihaa walaakinna albirra mani ittaqaa wa/tuu albuyuuta min abwaabihaawaittaquu allaaha la’allakum tuflihuuna
      Terjemah :
      Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[116], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Baqarah: 189).
      Jika Deni hanya melihat oknum ( yang menurut Deni salah dan menyimpang), Deni berarti berpikir subyektif.
      Karena dalam melihat organisasi Islam itu sesat atau tidak. Deni harus obyektif.
      Deni bisa melihat di website MUI mengenai organisasi sesat dan kriteria organisasi sesat.Dan alhamdullilah Yayasan Al Kahfi dianggap tidak sesat ( sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul).
      Deni juga bisa melihat langsung di website resmi Yayasan Al Kahfi http://www.yayasanalkahfi.or.id
      Ini catatan MUI mengenai kriteria aliran sesat yang ku copas dari website MUI :
      Sebagai pedoman bagi umat Islam Indonesia pada tgl 6 November 2007 MUI telah mengeluarkan 10 kriteria aliran atau paham yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

      10 Kriteria dimaksud antara lain

      1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6.

      2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah.

      3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.

      4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.

      5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

      6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.

      7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.

      8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.

      9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.

      10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.
      Semoga Deni bisa berpikir obyektif.
      Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

      Hapus
    3. Bismillah,

      pertama saya permisi dulu dengan yang punya Blog, untuk menjawab komentar ini. semoga tidak basi ya :)

      mas Agil,
      iya benar, al kahfi mengajarkan 'anggota-anggotanya' untuk berfikir secara objektif dan ilmiah, kritis dan mencerna tiap informasi yang ada. tapi banyak kejanggalan yang ada di dalam materi, kurikulum dan penyampaian dari AK. banyak hal yang membuat bertanya-tanya dan seringnya bertolak belakang dengan hadits bahkan al-qur'an.
      contoh; tentang siksa kubur, pada akhir materi disimpulakn bahwa siksa kubur itu TIDAK ADA, which is kontradiktif dengan AL Qur'an dan Hadits Rasulullah.

      sebenernya saya tergelitik ketika saya membaca ini "pihak Yayasan Al Kahfi pun terbuka dalam berdiskusi mengenai Islam sesuai Al Qur'an dan Sunnah Rasul." benarka? berkali-kali saya dan tim berusaha untuk tabayun dengan pihak AK di Jakarta, tapi mereka TIDAK PERNAH mau hadir dengan berbagai alasan, hey, kalau kalian memang benar, harusnya kalian berani untuk berdikusi secara ilmiah dengan ahlinya kan? bukan malah memberikan alasan ini-itu dan malah menanggapi ajakan kami dengan sepele.

      lucunya, ketika kami yg pernah ada di AK, kemudian keluar karena banyaknya kejanggalan yg ada, kami justru dikatakan 'berfikiran subjektif' seolah yang objektif hanya AK. padahal seringkali kami menelaah ulang materi yang disampaikan dengan tafsir dan penjelasan-penjelasan ulama mahsyur.


      Allahu a'lam bishowab

      Hapus
    4. @Sinta Puji Lestari : Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
      Terimakasih atas balasannya.
      Saya tidak pernah mengatakan "bahwa yang keluar dari Yayasan Al Kahfi berpikiran subyektif dan Yayasan Al Kahfi selalu obyektif"
      Yayasan Al Kahfi pun juga terdiri dari setiap manusia yang minoritas beberapa tidak akan lepas dari cara berpikir subyektif.
      Namun yang dapat Sinta garis bawahi dari pernyataanku adalah Yayasan Al Kahfi mengajari kami tuk berpikir obyektif,rasional,ilmiah dan menyampaikan pendapat dengan etika yang benar.
      Dan itu juga yang diajarkan oleh Allah SWT melalui Al Qur'an dan Sunnah Rasul yang shahih.
      Dan mayoritas dari anak-anak Yayasan Al Kahfi menerapkan semua itu dalam kehidupan mereka.
      Saya pun juga tidak memungkiri ada oknum-oknum yang mencederai Yayasan Al Kahfi.
      Namun jangan karena ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, hal itu merusak nama besar Yayasan Al Kahfi.
      Seperti halnya ISIS yang menghancurkan nama Islam,apakah kita akan mengakui ISIS sebagai Islam? Jawabannya tentu saja tidak,ISIS bukanlah Islam,namun organisasi teroris.
      Yayasan Al Kahfi pun bukan organisasi teroris/syiah/liberal/yang ekstrim.
      Yayasan Al Kahfi adalah Yayasan Islam yang berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Rasul.
      Yang bertujuan tuk membantu dalam bidang sosial demi mensejahterakan rakyat terutama rakyat Indonesia.
      Saya Indonesia,saya Pancasila, saya muslim dan saya anti hoax/fitnah.
      Terimakasih.

      Hapus
  4. PELAJARI KITAB INI UNTUK MENILAI AL KAHFI.
    RISALAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH KARYA HADHRATUS SYAIKH KH. M. HASYIM ASY’ARI (1287 H-1366 H)

    BalasHapus
  5. udah 2x kedatangan yg minta sumbangan dr al kahfi, yg satu ke rumah & satunya lagi ke kantor milik saya. yang pertama saya ga temui langsung, pas yg di kantor ini saya temui langsung, dan iya mencurigakan banget, buat saya sih keliatan banget nyari duitnya (emang cati duit sih, tapi yaaa gitu lah pokoknya). makanya saya langsung googling. mudah2an lebih banyak lagi yg kasih kesaksian ya

    BalasHapus
  6. Akhirnya,saya menemukan tulisan ini.saya sangat terganggu dengan peminta sumbangan dari Al Kahfi Bogor,yg ternyata jg dialami oleh tetangga2,dan teman2 saya.pun saudara2 saya di luar Bogor,dengan pengalaman yg sama. Bahwa peminta sumbangan dari Al Kahfi datang hampir tiap hari.bahkan Ramadhan ini dtg ke rmh saya tiap hari pagi dan sore..itu sangat mengganggu,saat sedang berbuka bahkan sholat magrib juga belum.rasanya memang benar yg dikatakan sdr.deny,sepertinya si peminta sumbangan punya target hrs mendapatkan uang.ngoyo bgitu bahasanya.klo menjelaskan lamanya minta ampun..jd kita mau mengusir susah..trimakasih utk tulisan ini,saya jd tau gmn itu AK.

    BalasHapus
  7. Hampir tiap bulan relawan AK dtg ke rumah, dan saya selalu memberi sumbangan.
    Namun saya amat sangat terganggu selama bulan ramadhan ini, karena saya merasa diteror oleh relawan AK yg meminta sumbangan.. selalu WA saya hampir tiap hari.
    Saya bilang sudah transfer pun, dia masih minta kirim bukti transferannya.hadeeuh jadi curiga. Lalu googling nemu tulisan ini. Trims yaa sekarang jadi tau deh,

    BalasHapus
  8. Sedikit sanggahan dari saya untuk mas Deny,

    Saya sudah 1 tahun mengikuti kajian dari Al-Kahfi, alhamdulillah sejauh ini tidak ada kesesatan-kesesatan.

    1.Diajarkan berbohong atau diplomasi atau apalah, sangat tidak benar mas, perspektif mas aja mungkin, saya full gak pernah bolong ikut kajian-kajiannya dari ESA 1, PCC, PMT hingga sampai ESA 2, gak pernah yang namanya diajarkan berbohong

    2.Islam tidak pernah mengajarkan permusuhan, apalagi Al-kahfi, lagi, itu perspektif mas saja, mas hanya menduga-duga.

    3.Pengorbanan Nabi dan para sahabatnya bagi umatnya sangat besar dalam mensyiarkan dakwah Islam, jiwa, raga, waktu, harta, dan benda semuanya dikerahkan Nabi untuk mensyiarkan Islam. Amal itu seperti bisnis MLM, mas misalkan meminjamkan sebuah buku kepada sahabat mas, lalu sahabat mas singkat ceritanya sukses dari ilmu yang didapat buku punya mas, dari kesuksesannya itu dia amalkan apa apa yang dia dapat dari buku itu, amalnya pun mengalir ke mas juga. Jadi jiwa raga dan semua itu harus dikerahkan demi kebaikan dan dakwah untuk Islam, walau hanya 1 ayat, walau hanya sebesar biji jarak, amal akan dihitung mas. Makannya pengorbanan Al-Kahfi untuk remaja-remaja ini bisa dibilang mati-matian, karena pentingnya dakwah itu agar sampai ke umat. Sekolah juga menyedot sumber daya kan mas? Demi masa depan kan mas? Demi diri sendiri kan? Demi orang tua? Pun sama halnya dengan organisasi, dari kita untuk kita juga, banyak pelajaran yang bisa diambil dari organisasi.

    4.Kenapa para mentor atau instruktur itu terkesan sangat ingin menarik anak-anak? Ya itu karena dakwah, sama halnya seperti guru... Anak yang bandel dan keluar jalur cenderung 'dikejar' dan dicoba untuk dirangkul agar menjadi baik lagi

    5.Kita gak pernah ada minta-minta duit dari anak-anak yang ikut kajian kok, kecuali kalau memang sedang emergency(*Misal, kalau air galon di tempat kajian habis, uang belum ada, biasanya anak-anak patungan). Karena dana Al-Kahfi sendiri kebanyakan dari donatur-donatur.

    6.Hidup memang untuk beribadah, tapi bahagia juga perlu. Kita gak diajarin untuk 'hidup selalu bahagia', tapi daiajarin meminimalisir tingkat kesengsaraan yang ada dan mencari kebahagian yang abadi, yaitu di Surga :)

    7.Sholat orang ya tergantung orangnya mas, sebenarnya untuk kasus yang tidak menyentuh lantai memang banyak ulama yang berpendapat kalau itu gak dilakukan, sholatnya tidak sah. Beranggapan positif saja, mungkin dia memang sedang tidak fokus... Dalam kondisi tertentu ada orang yang malah sambil duduk sholatnya...

    8.Karena mas belum sampai pada materi Memahami Ayat Ayat Allah or metode tafsir2nya, mungkin pandangan mas soal tafsir, mungkin yah, hanya sebatas mengerti tajwid, fasih berbahasa arab, dll. Memang itu penting, tapi jangan lupa dengan akal pikiran dan logika yang rasional mas :) , kalau mas ikut AK sampai sekarang mungkin dapat ilmunya dari materi MMA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

  9. 9.Karena keterbatasan tempat, kalau soal tidur asalkan tidak satu ruangan dan ada pembatas juga mentor yang sesuai muhrimnya mengawasi, ini cuman masalah teknis dan pelaksanaan doang kok. Setau saya dari yang soal lelaki dan wanita yang bukan muhrim dan gak boleh serumah itu lebih mengarah pada efeknya, perzinahan, dsb, jadi sengaja ada larangan spt itu ya karena ditakutkan akan EFEKNYA. Sama saat seperti jaman Khalifah Umar, saat di masa tertentu saat ada maling tertangkap bukannya dipotong tangan, tapi disuruh mengganti 2x lipat dari hasil curiannya, akalu tidak salah saat zamannya kelaparan dan kemiskinan itu, kenapa tidak dipotong tangannya? Padahal kan itu perintah Al-qu'ran? Karena melihat kondisinya saat itu, daripada potong tangan, mending uangnya dikembalikan 2x lipat, semata-mata EFEKNYA agar jera. Sama seperti potong tangan, agar EFEKNYA jera. Ya secara teknis perkataan soal laki2 dan wanita bukan muhrim gak boleh serumah ya karena dikhawatirkan EFEKNYA. Tapi bila ada alasan-alasan tertentu dan syarat-syarat tertentu yang memaksa laki2 dan wanita itu harus serumah, ya mau bagaimana lagi? Btw, sekarang tempat untuk tidur bagi akhwat ada di sekretariat SMKN 3 dan untuk yang ikhwan di markas AK nya di Padi :). Soalnya udah jadi bangunan barunya.

    10.Soal Al-Baqoroh ayat 285 itu, Allah menuntun manusia agar beriman dengan meniru Rasul yang beriman kepada kitab suci Al-Qur’an yang telah diturunkan-Nya, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, agar kita termasuk golongan orang-orang yang beriman.
    kalau cuman di kutip 'Kami dengar dan kami patuhi' seakan-akan seperti 'Cukup dengar dan laksanakan' sama kaya perintah membunuh orang kafir dong, kalau ketemu langsung bunuh gitu... Hati-hati lho mas, jangan setengah-setengah...

    11.Mengambil hati masyarakat yah? Kalau pun mereka menyumbang AK gunakan untuk kebaikan lagi kok, amal jadi kaya MLM gitu deh hehehe :D Rosul saja mengambil hati masyarakat mekah untuk diajak utk kebaikan

    12.STID Al Hadid namanya. Setau saya kakak kelas saya yang baru lulus aja masuk ke Telkom kok gak ada jaring jaring gitu...

    13.Menyimpang dari sisi mananya ya mas? Apa cuman perspektif doang?

    Sekian saja dari saya mas, fyi, saya dari SMKN 3 Bogor mas. Kalau ada kesalahan data dan informasi tolong koreksi saja. Terima kasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Andrian, terima kasih atas komentar panjangnya :)
      Saya mau menanggapi beberapa poin yah.

      1. Bahasanya bukan saklek "diajarkan berbohong", tapi bahasa halusnya, diplomasi, pernah dengar kan? Saat diajarkan "diplomasi" ini, ada 1 hadis (kisah?) yang selalu diulang-ulang, yaitu ketika Rasul kedatangan seorang yang tergopoh-gopoh dan nyawanya terancam, lalu orang itu memohon perlindungan kepada Rasul. Ketika orang-orang yang mencari orang tersebut datang dan menanyakan keberadaan orang yang mereka cari, Rasul bergeser duduk sedikit, lalu mengatakan "Semenjak aku duduk di sini, aku tidak melihat orang yang kalian maksud". Hal itu bukan berbohong, melainkan diplomasi, dan dulu saya diajarkan begitu; untuk apa? Ya untuk kepentingan al-Kahfi juga kedepannya.

      5. Umm, memang tidak meminta uang kepada anak-anak yang ngaji, saya ga bilang gitu loh ^^;

      11. Yah, kalau begitu silahkan dilihat komen-komen di atas yang mengeluh soal metode meminta sumbangannya, semoga bisa menjadi evaluasi :)

      13. Seperti yang saya bilang, menafsirkan al-Qur'an tanpa ilmu tafsir yang mumpuni. Kalau dulu, metode belajarnya seperti yang sudah saya jelaskan, materinya berupa terjemahan-terjemahan ayat al-Qur'an dan nantinya, ditafsirkan maknanya sesuai dengan logika pemateri. Padahal kan, tafsir Qur'an itu gabisa semudah itu, harus punya dasar ilmu tafsir, pengetahuan bahasa Arab, dll. Entah kalau sekarang masih sama atau sudah berkembang. Mungkin artikel ini bisa jadi acuan https://rumaysho.com/6575-menafsirkan-al-quran-dengan-logika.html
      Saya ingat dulu pernah disuruh pilih ayat mana saja dalam al-Qur'an, dan pemateri bilang, dia bisa membuktikan dan mencerna ayat manapun dalam al-Qur'an dengan logika. Na'udzubillah min dzalik...

      Intinya, ini pengalaman saya di tahun 2010, pastinya banyak silap memori, atau karena dulu masih SMA dan belum matang, masih banyak kesalahan pemahaman. Dan mungkin banyak dari tulisan saya ini yang sudah tidak relevan, alhamdulilah kalau al-Kahfi terus berbenah dan memperbaiki diri. Tapi mungkin yang bisa jadi bahan evaluasi, komen-komen di atas ini yang mengeluh soal teknik meminta sumbangannya al-kahfi, bisa dijadikan pertimbangan.

      Hapus
    2. @Denialization: terimakasih atas saran dan kritiknya.
      Namun para pematerinya kompeten, Deni bisa melihat di website perguruan tinggi Yayasan Al Kahfi :http://www.stidalhadid.ac.id
      Dan Deni seperti komentarku sebelumnya, Deni harus berpikir obyektif bukan subyektif.
      Silakan Deni berdiskusi dengan Yayasan Al Kahfi sesuai dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul.
      Untuk teknik sumbangannya ada SOP ( Standar Operasional Prosedur ) yang sangat jelas.
      Jika Deni ataupun merasa ada yang salah dengan teknik sumbangan dari beberapa oknum, Deni silakan menghubungi sekeretariat Yayasan Al Kahfi terdekat dan akan segera diberikan sanksi sesuai dengan kesalahan oknum tersebut (dengan catatan bukti yang jelas) sehingga memberikan efek jera kepada oknum tersebut.
      Ku harap Deni berpikir obyektif :)

      Hapus
    3. Serius nih boleh laporin Alkahfi? saya ikut Alkahfi tahun 2011 akhir - 2013. dan pengalaman saya persis seperti Mas Deni. Ada banyak bukti juga sih sebenernya masih di simpan di ruang kepala sekolah.

      Hapus
    4. @Neng Khusnul: Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabaraktuh.
      Negara kita adalah negara hukum.
      Setiap warga negara dilindungi dan diberikan hak untuk melaporkan dan dilaporkan.
      Selama Neng Khusnul mempunyai bukti-bukti yang kuat dalam melaporkan,Negara dan Undang2 memepersilahkan.
      Namun Neng Khusnul juga harus siap dengan konsekuensi hukum,jika yang melaporkan terbukti memfitnah, maka hukumannya pun diatur dalam Pasal 311 KUHP yang berbunyi

      “Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”
      Jika Neng Khusnul siap dengan konsekuensi hukum tersebut, maka silakan.
      Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  11. so....mungkin AK ini hasil kawin silang antara liberal dan syiah... :-)
    selamat meneliti taqiyah2 mereka...

    BalasHapus
  12. @handik gustiyo : jika ingin melihat/meneliti Al Kahfi bisa datang langsung ke sekretariatnya atau bisa lihat di website yayasanalkahfi.or.id
    Anda jangan sembarangan dalam memfitnah, Yayasan Al Kahfi bisa mengambil langkah hukum karena sudah terlalu sering dengan fitnah-fitnahan seperti ini dan telah terbukti bahwa Al kahfi tidak seperti fitnahan-fitnahan tersebut.
    Anda bisa lihat di website Yayasan Al kahfi aaatau pemberitaan di media massa manapun, bahwa para pemfitnah tersebut meminta maaf atas fitnahan-fitnahan mereka.
    Anda jangan ikut mengulangi,karena pasti akan diambil tindakan tegas berupa langkah hukum kepada Anda ataupun tukang fitnah lain.

    BalasHapus
  13. Sebaiknya dalam membaca artikel ini juga menyertakan data pembanding. Sekarang sudah ada UU ITE yang baru bagi yang membuat atau menyebarkan berita yang meresahkan pihak tertentu bisa diproses hukum dan dipenjara. sanksi tidak hanya bagi yang membaca tapi juga yang menyebarkan. Sebaiknya artikel ini dicrosscheckan langsung kepada pihak yang bersangkutan serta memberikan data pembanding dari pihak yang dituduh namun belum jelas buktinya atau jelas data pembandingnya. saya menyarankan untuk langsung saja membuktikan tidak asal judge.

    BalasHapus
  14. ikut berkomentar ya guys... Seru juga ni... Kalo saya sih terus terang sudah biasa dengan komentar dan kritikan subjektif seperti ini. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ini bisa menjadi besar karena diupload di dalam blog sehingga bisa dilihat oleh ratusan, bahkan ribuan orang. Sehingga bisa jadi akan semakin banyak pula yang terpengaruh dengan tulisan ini tanpa mengetahuinya secara objektif.

    Mungkin bisa ditambahkan dan ditekankan mas deny di dalam tulisannya diatas, bahwa ini adalah pengalaman pribadi dan hasil penilaian pribadi, bukan berarti akf seperti apa yang mas bilang, sehingga cukup bisa ditampilkan informasi yang bersifat data dan fakta saja, bukan yang bersifat penilaian.

    Mudah-mudahan yang membaca blog ini masih tetap bisa objektif dengan menilai langsung dari sumbernya, bukan berdasarkan "katanya-katanya"

    Jika ada kesalahan-kesalahan dari anggotanya, mungkin bisa di konfirmasi apakah itu merupakan kesalahan organisasi alkahfi atau itu merupakan kesalahan dari pribadi dari anggotanya. Karena ada saja anggota yang berbeda dengan organisasinya, seperti dulu ada kisah Sarekat Islam (SI) yang anggotanya membela komunis, padahal organisasi SI itu tidaklah pro komunis.
    Jika memang ada kekeliruan mohon dimaafkan dan sekaligus diingatkan.

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum.
    Pertanyaanku untuk aktivis Al Kahfi
    1. Apakah setiap materi kajian yang disampaikan oleh Al Kahfi sudah di verifikasi oleh MUI?

    2. Diantara 4 mahzab fiqih yang sudah populer, posisi Al Kahfi mengikuti mahzab mana?

    3. Bolehkah untuk tidak bermahzab dari mahzab 4 imam besar spt imam syafi'i, imam maliki, imam Hambali dan imam hanafi ?

    4. Al Quran itu makhluk atau bukan?

    5. Mengamalkan tassawuf / ber toriqoh itu boleh tidak?

    Mohon maaf kalau pertanyaanku kurang pas. Saya cuma ingin pencerahan dari aktifis Al Kahfi. Mohon dijawab jika memang anda orang yang mengerti. Makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumussalam warahmatullah
      Sebagai mantan aktivis, mungkin saya akan membalas beberapa poin dari pertanyaan Saudara.

      1. Sewaktu saya mengaji di AK, seingat saya tidak pernah dikatakan speerti demikian. Yang selalu ditekankan adalah bahwa Yayasan AK sudah mendapat izin dari Babin apa itu saya lupa, dan sudah didaftarkan ke Kemenhumkam.

      Sisanya saya kurang paham. Semoga bisa menjawab.

      Hapus
  16. Bismillah...

    Mas Deni saya mohon izin untuk berpendapat.

    Saya saat ini aktif di al kahfi, baik ikut kajiannya, membantu kegiatan kegiatannya, dan sering diskusi dengan instruktur dan kaka2 al kahfi yang lebih senior.

    Saya mungkin bisa menjawab pertanyaan mas wiku.

    1. Materi - materi yang disampaikan instruktur telah lulus uji oleh MUI saya lihat sendiri sertifikatnya atau ya semacam itulah. Juga sebelumnya sudah diujikan dan didiskusikan bersama profesor profesor dan cendikiawan muslim. Setahu saya begitu.

    2. Untuk madzhab fiqih, kita dibebaskan untuk memilih sesuai dengan latar brlakang pendidikan agama kita atau pengetahuan kita tentang fiqih. Tapi nanti di di materi semester 3 akan ada pelajaran tentang usul fiqih, bagaimana memahami fiqih islam dan cara ulama2 empat mazhab yang terkenal itu berijtihad. Kebetulan juga saya mahasiswi pra universitas syariah perbandingan mazhab fiqih di salah satu kampus cabang riyadh. Saya sendiri dari pesantren yang mazhab fiqihnya mengikuti pandangan pandangan imam ahmad bin hambal atau hambali yang banyak masyhur di Saudi Arabia. Seperti jilbab yang besar, terkadang bercadar, dan pengharaman musik, dsb. Pemahaman fiqih saya ini berbeda dengan kebanyakan pandangan fiqih orang - orang di Indonesia yang lebih pada mazhab syafi'i. Dan kebanyakan memang kaka2 di al kahfi mengikuti mazhab syafi'i dalam masalah ibadah. Terlepas dari itu, kita diberi kebebasan mengikuti mazhab yang mana saja selama penasarannya ilmiahnya kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Tidak fanatik (subyektif) dan mentumpulkan akal karena mengikuti doktrin. Begitulah kira kira.

    3. Apakah boleh tidak bermazhab? Saya pikir ini bukan masalah boleh atau tidak boleh. Tetapi masalah butuh atau tidak butuh. Karena mazhab fiqih itu kebutuhan umat islam dalam menjalani syariat2 islam. Tanpa mazhab2 fiqih itu kita akan bingung tentang hukum halal haram, tata cara ibadah, sah dan batalnya amalan, dsb. Jadi saya pikir bukan tentang boleh tidaknya. Tetapi butuh tidaknya. Kalau saya menjawab tentu sangat butuh. Dan ini kebutuhan ini sifatnya obyektif karena bagaimanapun kita tidak bisa lepas dari mazhab2 fiqih yang mahsyur dalam mengambil dan menyimpulkan hukum islam. Begitulah kira kira.

    4. Al quran bukan makhluk! Jelas! Ini pemikiran mu'tazilah. Dan al kahfi bukan mu'tazilah. Saya awalnya sempat curiga apakah dia terpengaruh mu'tazilah atau tidak. Akhirnya saya berdiskusi dengan instrukturnya dan mereka dapat membantah pemikiran pemikiran mu'tazilah dengan tajam dan baik. Saya bangga itu. Jadi ingat ibnu taymiah yang belajar ilmu kalam untuk membantah orang orang sesat yang menyelewengkan ilmu filsafat untuk menghancurkan islam. Saya berharap kader2 al kahfi mengikuti jejak syaikhul islam ibnu taymiah. Saya lihat instruktur saya sangat kagum dengan dua ulama besar tersebut, ibnu taymiah dan ibnul qayyim. Saya juga termasuk orang yang kagum dengan kedua tokoh besar umat islam itu.

    5.Di al kahfi setahu saya diinformasikan bahwa tasawuf itu terpengaruh pemikiran Hindu. Jadi saya agak curiga dengan pemikiran2 tasawuf. Dan al kahfi sangat tidak menyarankan mengikuti tariqoh2 seperti itu. Karena memang tidak ada tuntunannya di dalam Al quran dan sunnah dan ada pengaruh idiologi idiologi Hindu. Sebaiknya kita berhati hati saja.

    Begitulah kira - kira jawaban saya. Mari berdiskusi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  17. OK. Makasih sudah berkenan untuk menjawab.

    BalasHapus
  18. Iya nih, sudah tahun ke 3 ini tiap romadhon sy sll dapet brosur al kahfi, dan tentunya selanjutnya 'dipaksa'untuk nyumbang, sempet curiga sih wkt dulu dpt bc yayasan yg masuk kategori syiah/liberal,dan al kahfi salah satunya, tp sy ttp berbaik sangka saja, tp ditahun ke 3 ini kok rasanya jd penasaran sm yys ak ini, gogling dan nemu blog ini, alhamdulillah deh jadi tercerahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. @dapur kencana : setiap pertanyaan dan jawaban yang Anda ingin kan mengenai Yayasan Al Kahfi,sebenarnya sudah ada di website resmi Yayasan Al Kahfi.
      Silakan cek di website http://www.yayasanalkahfi.or.id/
      Tolong jangan menerima sumber dari pihak yang memfitnah saja seperti blog Mas Deny ini, tapi lihat juga dari sumber yang difitnah.
      Saya harap kita semua berpikir obyektif,ilmiahmrasional dan menyampaikan kebenaran dengan etika yang benar.
      Seperti tertuang di dalam Al Qur'an :
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ -٦-

      “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
      (Al-Hujurat 6).
      Terimakasih @Dapur Kencana

      Hapus
  19. Iya nih, sudah tahun ke 3 ini tiap romadhon sy sll dapet brosur al kahfi, dan tentunya selanjutnya 'dipaksa'untuk nyumbang, sempet curiga sih wkt dulu dpt bc yayasan yg masuk kategori syiah/liberal,dan al kahfi salah satunya, tp sy ttp berbaik sangka saja, tp ditahun ke 3 ini kok rasanya jd penasaran sm yys ak ini, gogling dan nemu blog ini, alhamdulillah deh jadi tercerahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. @dapur kencana : setiap pertanyaan dan jawaban yang Anda ingin kan mengenai Yayasan Al Kahfi,sebenarnya sudah ada di website resmi Yayasan Al Kahfi.
      Silakan cek di website http://www.yayasanalkahfi.or.id/
      Tolong jangan menerima sumber dari pihak yang memfitnah saja seperti blog Mas Deny ini, tapi lihat juga dari sumber yang difitnah.
      Saya harap kita semua berpikir obyektif,ilmiahmrasional dan menyampaikan kebenaran dengan etika yang benar.
      Seperti tertuang di dalam Al Qur'an :
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ -٦-

      “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
      (Al-Hujurat 6).
      Terimakasih @Dapur Kencana

      Hapus
  20. Terima kasih pencerahannya, Pak Deni, kebetulan baru kedatangan tamu dari Al Kahfi. Modus sumbangannya biasanya setelah dikasih, terus tanya apakah Bapak bisa rekomendasikan teman Bapak yang lain? Lalu mereka menuju rumah yang kita rekomendasikan dan mengatakan, bahwa dirinya datang dengan rekomendasi dari kita.... Itulah pengalaman saya didatangi tamu dari Al Kahfi Purwokerto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Oman Rusmana : jawaban saya kepada Dapur Kencana, bisa juga ditujukan kepada Anda.
      Tuk kata Anda yg "modus" itu, itu bukan modus.
      Namun merupakan SOP (Standart Operasional Prosedur) setiap Divisi Penggalian Dana di Yayasan sosial manapun.
      Pengalaman saya juga sebagai penggali Dana Yayasan PKPU, SOP dalam penggalian dana pun juga sama seperti itu.
      Silakan Anda cek di semua Yayasan Sosial resmi di seluruh Indonesia(seperti Al Falah,yatim,BAZ dsb), metode atau SOP dalam penggalian dana adalah seperti itu.
      Tujuannya tentu saja bagi setiap Yayasan adalah agar menambah jumlah donatur yang akan membantu kami dalam merealisasikan setiap program-program sosial Yayasan.
      Ku harap Anda dapat cek dan ricek mengenai hal tersebut.
      Tujuan saya agar kita seluruh orang di Indonesia, tidak mudah menerima berita hoax atau fitnah yang dapat menghancurkan negara tercinta Indonesia ini,seperti yang dilakukan Mas Deny ini.
      Saya Indonesia,saya Pancasila,saya muslim dan saya anti berita hoax atau fitnah.
      Terimakasih.

      Hapus
  21. Barakallah akhi, terima kasih atas kesimpulan anta...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

Di Antara Hitam-Putih, Abu-abu Hadir