Di Antara Hitam-Putih, Abu-abu Hadir

Namanya Zaynudin, lebih sering dipanggil Zay, atau Zayn. Dia adalah satu dari sekian anak Indonesia yang dikirim ke Jepang untuk belajar bertani. Dia berasal dari Kalimantan Tengah, tinggal di dekat Sungai Katingan. Kemarin, 25 Mei 2016, rasanya gue kembali diingatkan untuk selalu bersyukur, selalu harus melihat "big picture" dan tidak langsung judge seseorang hanya berdasarkan mindset gue sendiri.

Zay ini orang yang pendiam, pertama kali ketemu juga dia termasuk yang paling kalem dibanding 17 orang 17 orang teman-temannya. Yang paling gue inget, dia pernah terlambat masuk kelas sewaktu orientasi di Ibaraki gara-gara ke toilet; istirahat selesai 10.00, dia baru hadir di kelas 10.02 (iyah, ini Jepang men). Shimizu-san (pak bos) langsung ngomong panjang lebar soal pentiongnya ketepatan waktu di Jepang, keterlambatan hitungan menit pun bisa dianggap kesalahan yang sangat besar.



Singkat cerita, dari hari Selasa sampai Rabu kemarin, gue dateng ke Wakayama, tempatnya 3 anak belajar, salah satunya Zayn. Setiap tahun biasanya gue sama bos nginep di rumah Hashizume-san, host family-nya Zayn. Sepanjang perjalanan ke rumahnya si Zayn selalu ngeluh host family temen-temennya lebih baik, dan host family dia galak dan kejam, selalu marah-marah. Padahal setau gue, anak tahun lalu yang belajar di Hashizume-san, namanya Arya, jadi anak kesayangan di sana. Berkali-kali gue mesti tekan dia buat berhenti berpikir negatif soal hsot family dan membanding-bandingkan dia dengan yang lain; gua yakinkan bahwa dia juga pasti punya kelebihan yang bisa buat dia maju dan berkembang.

Sesampainya di kediaman Hashizume-san, seperti biasa sebelum tidur ngobrol-ngobrol dulu dengan keluarganya. Ketika obrolan menyebut-nyebut Zayn, atau Arya, Zayn selalu berpikir "Tuh kan mas mereka pasti lagi ngejelek-jelekin saya", yang padahal ga sama sekali mereka menjelekkan Zayn -,- Dan hal itu, bukan terjadi 1-2x, sampai gue kesel sendiri kok ya bisa dia pesimis banget.

Sampai Zayn curhat, kalau dia tidak terbiasa bekerja disuruh dengan keras, karena selama ini dia bekerja atau belajar, ga pernah dikerasin atau ditekan. Lalu Hashizume-san cerita tentang pengalaman dia training pertanian persis seperti Zayn di Amerika dulu, dimana dia ditekan sangat keras oleh petani di sana, dan apa yang dia terapkan ke Zayn, sama sekali jauh levelnya dengan yang dia alami dulu. Di situ, gue nambahin bumbu, bahwa orang yang kuat itu muncul dari kondisi ketertekanan. Bahwa ketertekananlah yang akan memunculkan sejatinya individu kuat. Bah.

Keesokan pagi sewaktu konsultasi, entah bagaimana ceritanya, karena biasanya pertanyaan ga pernah sampai ke latar belakang keluarga, sedikit demi sedikit latar belakang keluarga dan kehidupan Zayn terungkap.

Dia hidup sendiri di kampungnya, dekat sungai Katingan, Kalimantan Tengah. Kampungnya itu, untuk menuju ke kota, mesti menyebrang sungai selama 3 jam menggunakan ferry/taksi sungai. Sejak SD dia sudah bertani dengan kakek nenek tiri, sementara orang tuanya bekerja jauh di kota Sampit, di perkebunan sawit. Sampai SMA, dia masih dibiayai oleh kedua orang tuanya, namun selepas SMA, dia harus menghidupi dirinya sendiri. Dia punya 3 adik, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Seorang adik lakinya sudah bekerja selepas SMA, lalu adik perempuannya sudah menikah, tinggal di luar kampung bersama suaminya, mengajak adik laki-laki yang masih sekolah di bangku SMP, tahun ini kelas 3. Praktis Zayn tinggal sendiri di kampung itu.

Semenjak kecil dia hidup dengan ritmenya sendiri, tidak ada yang menyuruh dia A, B, C. Yang dia tahu, jika dia tidak bekerja, maka dia tidak bisa makan. Maka, dia pun akan bekerja seperlunya, asal dia bisa hidup dari hari ke hari. Bayangkan dengan dia di Jepang, ketika dia dituntut untuk bekerja A, B, C, ditambah watak petani yang pastinya keras, ga heran dia mengalami culture shock. Ga cuma gua yang kaget, pegawai dinas pertanian Wakayama yang hadir, juga istri Hashizume-san, ga ketinggalan bos Shimizu-san pun kaget. Ternyata, di balik badannya yang kecil, langkahnya yang santai, ada latar belakang kehidupan seperti itu.

-------------------------------o0o-------------------------------------------

Kadang, kita (gue) suka lupa untuk menempatkan diri di sepatu orang lain, istilah bahasa Sundanya "place yourself on other's shoe". Sering hanya melihat sesuatu, hitam dan putih aja. Kalo itu ga cocok dengan gimana lu menjalani hidup selama ini, berarti hal itu jelek, salah, buruk! Padahal kan, ga bisa begitu coy. Mungkin gua hiodup dengan menyerap banyak kata-kata motivasi, bahwa hidup itu perjuangan, gaboleh lembek, gerak harus 'tek tek tek', cepet, teratur. Tapi.. ada juga orang lain semacam Zayn yang bahkan ga pernah denger pepatah "pelaut yang tangguh berlayar di ombak yang keras dan tinggi". Mungkin, ombak yang dia arungi, ga sama dengan ombak yang gua arungi, dan adalah salah kalo gua hanya melihat Zayn, dengan kacamata gua mengarungi ombak versi gua.

Baru baca Outliers, salahs atu karyanya Malcolm Gladwell, ada ceritanya Chris Langan, manusia terpintar di Amrik, dengan IQ 190 yang melewati masa lalu yang begitu berat dan penuh perjuangan, dan merasakan beratnya kehidupan karena orang lain, dan sistem di sekitarnya, tidak bisa dan tidak mau mengerti kondisi Chris.

Tapi pastinya, di sisi lain, tidaklah mungkin untuk semua kita punya waktu untuk menempatkan diri di sepatu setiap orang, butuh kepekaan tingkat tinggi, dilatih, untuk bisa mencapai level itu yah. Maka dari itu, yuk, mulai belajar peka. Azik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)