Malam


  Jumat malam, aku di sini lagi, di meja pojokan, tempat aku dan kamu pernah duduk berhadapan. Bangku dan meja yang mungil, desain interior yang dibuat seolah pengunjung berada di dunia anak-anak. Ketika melewati pintu masuk pun aku harus menunduk. Aku ingat, dulu aku mentertawakanmu yang tidak perlu menunduk ketika masuk ke sini, karena kamu lebih pendek. Namun kali ini, aku datang sendiri, membawa sepotong nostalgia. Bukan, bukan untuk mengenang, apalah arti mengenang bila hanya sendiri kulakukan. Bolehlah aku bilang ini, dipaksa berdamai. Ya, mungkin itu diksi yang lebih tepat.
  Meski samar, tapi aku masih ingat malam itu, ketika kita sepakat untuk meruntuhkan segala ego dan gengsi yang selama ini kita pakai sebagai topeng, bersembunyi dari tatap satu sama lain yang saling mencari kebenaran.

--**--

  "Selamat yah, sebentar lagi kamu akan menjalani cerita layaknya kisah di Senja Bersama Rosie itu, happily ever after." kau membuka percakapan dengan sindiran kuno itu.
  "Sudahlah, aku sudah berkali-kali bilang, masih jauh panggang dari api, masih belum apa-apa dibanding kamu." aku berkilah untuk yang kesekian kalinya setelah kesekian kalinya juga kamu lontarkan sindiran yang sama.
  Omong-omong, aku sangat, sangat suka jus jeruk. Aku sampai hafal semua rasa jus jeruk yang ada di supermarket, semua merek. Setiap ke restoran, semua sudah paham dan hafal kalau aku pasti akan memesan jus jeruk. Begitupun malam itu, jus jeruk yang kupesan, aku nilai 7 dari skala 10. Kamu yang bahkan tidak tahu apa perbedaan rasa merek satu dengan lainnya, hanya manggut-manggut, entah setuju atau heran dengan obsesiku dengan jus jeruk.
  "Apa kamu mau dessert? Biasanya perempuan suka yang manis-manis. Mousse? Puding? Ah, bagaimana kalau...cheese cake?"
  "Aku tidak sedang nafsu makan, kamu saja yang pilih, nanti aku boleh cicip kan?"
  "Cicip berarti membeli, fix. Mbak, cheese cake-nya 1 ya." Tanpa persetujuanmu, aku segera pesan cheese cake yang dari buku menu saja sudah terlihat sangat menggoda. Kamu yang setengah melotot karena aku dengan seenaknya memutuskan, aku acuhkan saja dengan sedikit cekikikan.
  "Hidupku, tidak seindah yang kau pikir loh. Mungkin memang yang selalu aku tunjukkan, hal-hal yang menyenangkan saja. Tapi, ya, aku yakin, masa depanmu pasti jauh lebih baik dan menyenangkan!" Masa depan, frase yang kamu sampaikan dengan, entah apa aku salah terka atau tidak, senyuman sedikit pahit.
  "Apa maksudmu, semua orang menghadapi pertarungannya masing-masing, kamu, dan juga aku. Setiap orang diberikan beban yang pasti mereka bisa emban, itu sudah ditentukan. Jadi, aku rasa adalah egois jika kamu menganggap seperti itu. Tersenyumlah, maka semua akan baik-baik saja." Klise, aku menyadari betapa hampanya kalimatku. Mana bisa senyuman menyelamatkan dunia.
  "Kamu, baik, terlalu baik. Andai saja waktu itu kita, aku, tidak salah ambil tikungan, mungkin semua akan berbeda hari ini. Takdir, ya, takdir." Sepintas aku rasakan harapan, dari dalam bola matamu yang diterpa lampu temaram.
  "Kata orang, penyesalan selalu datang terlambat. Kalau datangnya tepat, namanya pendaftaran. Yuk, dimakan dulu cheese cake-nya." Aku hanya bisa melontarkan guyonan basi itu untuk memecah kebuntuan.
--**--
Feels like an ocean, between you and me, once again. We hide our emotions, under the surface and tryin' to pretend.
  Potongan lirik yang mengalun lewat walkmanku, sambil aku menyeruput kopi di meja pojokan itu. Ya, kali ini aku tidak memesan jus jeruk, karena aku sudah tahu jusnya tidak sebaik jus yang biasa aku beli, kelas 2. Aku pun tidak memesan dessert, aku hanya ingin berdamai di sini, bukan melakukan perjalanan waktu.
  Tidak ada yang berubah, kursi mungil, meja mungil, desain interior yang imut, aku kembali seperti berada di taman kanak-kanak saja. Mungkin yang spesial, ada lilin-lilin yang dipasang di sepanjang jalan keluar, sepertinya untuk menghadirkan kesan romantis. Tapi aku malah merasa seperti kembali ke masa-masa jurit malam sewaktu di SMA dulu, lilin di kiri dan kanan jalan setapak. 
  Berdamai, atau, dipaksa berdamai, dengan keadaan. Aku masih belum bisa menguasai teknik ini sepenuhnya. Aku bisa menerima jaketku yang aku beli minggu lalu, sudah didiskon 20 persen hari ini. Atau ketika aku kehilangan memory card kameraku, bukan masalah besar. Tapi berdamai dengan keadaan? Sepertinya menjadi 1 pertanyaan yang aku harus masukkan ke bookmark kehidupanku, yang harus aku cari jawabannya. 
  Tetes terakhir kopi di cangkir, menjadi batas tegas aku untuk pulang. Entah apakah aku sudah bisa berdamai atau belum, aku sudah masukkan ke dalam bookmark hidupku.  
--**--
  "Kenapa? Apakah semua yang aku lakukan, masih belum cukup? Atau, atau...atau kenapa tidak kamu katakan saja apa yang harus aku lakukan, supaya apa yang sudah kita, aku impikan dan rencanakan, bisa menjadi nyata?" Aku seperti orang yang menggapai-gapai dalam gelap, berusaha mencari pegangan yang teguh, limbung, hampir jatuh, menabrak semua yang ada di hadapan.
  "Maafkan aku, aku, aku tidak melihat hal ini akan terjadi. Kamu janji ya, janji untuk terus melanjutkan hidupmu, dan jadi orang yang luar biasa, seperti yang selalu kamu lakukan dan tunjukkan." Aku berusaha mencari kebenaran dan kejujuran dalam kata-katamu, dalam tatap matamu. Apa yang harus aku lakukan?
  "Apa kamu mau permainkan aku, lagi? Mau sampai berapa kali, sampai kamu puas? Sampai aku tidak bisa lagi merasa? Kamu tahu betul kan apa yang pernah terjadi?" Dalam nada amarahku, aku masih berusaha menggapai, mencari pegangan yang solid. Hanya ada 1 suara yang terus berputar di dalam kepalaku, Aku harus apa?
  "Kenapa kamu selalu loncat ke kesimpulan yang kamu buat sendiri sih? Kenapa kamu tidak pernah bisa melihat gambaran besarnya? Kenapa kamu selalu hanya menyalahkan?" Pertanyaan-pertanyaan tajammu, semakin membuatku limbung, dan akhirnya terjatuh.
  "Aku.. aku akan pergi, aku, harus pergi. Ini bukan murni keinginanku sendiri. Aku harap kamu mengerti. Seperti yang pernah aku bilang, permainan takdir, bahwa mungkin, takdir tidak pernah ada di pihak kita, betapapun kuatnya keinginan kita. Maafkan aku, aku..." Kata-katamu hilang, kamu diam tercekat, lalu kebisuan yang kemudian menjelma. Aku hanya bisa mencoba membaca gerak bibirmu yang berusaha melengkapi kalimatmu yang terpenggal. Aku harus apa?
--**--
Step out into the dark, where were you when I was trying
To lift up, carry the love, do you know?
  Kamu, yang kini berbahagia, mengepakkan sayapmu yang indah, terbang menuju impian yang telah kamu bangun dengan tangan dan keringatmu. Tidak ada yang pantas menerimanya, selain kamu sendiri. Mungkin aku salah membaca gerak bibirmu itu, atau kalau pun benar, apa yang bisa kita lakukan di depan palu godam takdir?
  Biarlah aku yang menapak bumi, menyusuri jalan-jalan itu. Berdamai dengan takdir, keadaan, kenyataan, atau apalah itu kau menamakannya, bahwa aku akan selalu terikat dengan pertanyaan tanpa jawaban, aku harus apa?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺