Journey Beyond the Lands #8: Maaf, Saya PNS.....


Memberi hadiah kepada pegawai kelurahan atau kantor pemerintah, atau bahkan guru sekalipun, sebagai bentuk terima kasih karena telah membantu atau sekedar menjalankan tugasnya dengan baik, adalah hal yang wajar di Indonesia, dan memang kita biasa dengan budaya itu. Kalau di keluarga gua, setiap beres semester atau naik kelas, pasti Mama akan mbawain hadiah buat guru, entah sekedar baju atau kerudung atau semacamnya. Namun sayangnya, ada saja yang 'memanfaatkan' budaya itu, untuk memperlancar kepentingan yang dibawa. Namun di Jepang, ada hal menarik tentang budaya memberi hadiah tersebut.


Baru saja kemarin, sepulangnya dari kontrol ke RS (iya, masih kontrol, dikit lagi, yosh) gua berniat "main" ke kantor kelurahan Setagaya, mau ketemu sama Nakamura san (beliau yang ngurusin asuransi khusus buat penyakit gua, will tell you later on part 2). Sebelumnya gua diurus sama Matsuya san, tapi karena 1 dan lain hal digantikan oleh Nakamura san ini. Karena begitu banyak bantuan yang gua dapet dari 2 orang ini, maka semenjak dari Indonesia pun gua udah berjanji ke diri sendiri buat ke kantor Kelurahan dan mbawain sekedar kopi Indonesia (orang Jepang doyan ngets sama kopi).

Singkat cerita, akhirnya gua bisa ketemu sama Nakamura san setelah sedikit drama (salah kantor, harusnya ke lantai 1 malah ke lantai 2, dan membuat orang di lantai 2 harus cari-cari yang namanya Nakamura karena ada 3 orang yang namanya Nakamura, eh ternyata beda orang). Setelah bertemu, ngobrol-ngobrol dikit, lalu gua bilanglah ada perlu apa bertamu, dan dikeluarkan oleh-oleh kopinya. Namanya orang Jepang, dengan hospitality-nya yang luar biasa, menunjukkan rasa berterima kasih yang luar biasa. Lalu gua disuruh ngisi beberapa form berkaitan dengan perpanjangan masa pemberian bantuan kesehatan.

Setelah beres ngisi form, Nakamura san langsung ngomong...
"Nganu, mas Deny, kami ini, saya dan Matsuya san, itu PNS, dan PNS itu tidak diperbolehkan menerima hadiah apapun dalam bentuk apapun, karena memang sudah pekerjaan kami. Tapi untuk kali ini saja, tidak apa-apa, kami menerima ini (oleh-oleh) sebagai perasaan terima kasih kami karena Mas Deny sudah repot-repot memikirkan kami. Tapi lain kali, lebih baik tidak usah membawakan seperti ini..."
Deg. Wah, gua langsung ngerasa ga enak, karena ga mikir sampai ke situ, padahal inget banget sering denger cerita orang-orang, betapa orang Jepang sangat tegas menolak hadiah. Bahkan budaya memberi hadiah kepada guru setelah selesai tahun ajaran pun bukan hal yang lazim, alias aneh. Pernah diceritakan Papa, waktu dia 'main' ke TK tempat adik gua dulu dititipkan, lalu dibawakan kopi juga dan berniat memberikan ke guru TK-nya, tapi langsung ditolak, karena alasan yang sama.

Well, satu lagi yang bisa dikagumi dari Jepang, betapa mereka sangat menjaga 'kebersihan hati' (?) dalam menjalankan tugas. Padahal mungkin ga seberapa ya harga sebuah kopi, tapi tetap mereka menolak dengan tegas pemberian di luar hak mereka. Lalu teringat suster yang gua kasih sisa snack sebelum keluar RS, dia pun menolaknya dengan halus, meski setelahnya tetap diterima, namun sepertinya langsung membuang snack pemberian gua...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yayasan Al-Kahfi: Sebuah Testimoni

23: A Self Reflection (of The Insecure One)

道元を食いすぎた俺